Rabu, 30 Oktober 2013

MAKNA KONSEPTUAL DAN ASOSIATIF



PEMBAHASAN

A.   Makna Konseptual dan Makna Asosiatif
Makna asosiasi ini sesungguhnya sama dengan perlambangan-perlambangan yang digunakan oleh suatu masyarakat bahasa untuk menyatakan suatu konsep lain (Chaer, 2002: 72).
Selametmuljana (dalam Pateda, 2010: 178) mengatakan asosiasi adalah hubungan antara makna asli, makna di dalam lingkungan tempat tumbuh semula kata yang bersangkutan dengan makna yang baru, yakni makna di dalam lingkungan tempat kata itu dipindahkan kedalam pemakaian bahasa. Makna leksikal asosiasi, yakni :
1.    Persatuan antara rekan usaha, persekutuan dagang;
2.    Perkumpulan orang yang mempunyai kepentingan bersama;
3.    Tautan dalam ingatan pada orang atau barang lain;
Pembentukan hubungan atau pertalian antara gagasan, ingatan, atau kegiatan pancaindera Depdikbud (dalam Pateda, 2010: 179).
Contoh:
            Bangsa Indonesia pasti tahu hari raya Idul Adha, hari raya Idul Fitri, Natal, hari Kartini (21 April), HUT ABRI (5 Oktober), Sumpah Pemuda, Hari Pahlawan (10 November), hari Ibu (22 Desember). Asosiasi kita langsung berhubungan dengan waktu atau peristiwa tersebut meskipun pembicara tidak menjelaskan peristiwanya. Kalau orang berkata “Lusi, besok tanggal 22 Desember,” maka yang dimaksud bukan tanggalnya, tetapi dorongan untuk memperingatinya. Maknanya pun berubah.
            Makna asosiasi juga dapat dihubungkan bukan hanya pada waktu peringatan besar, namun makna asosiasi juga dapat dihubungkan dengan tempat atau lokasi, dengan warna, dan dengan suara atau bunyi.
B.   Makna Ideomatikal dan Peribahasa
Menurut Poerwadarminta (dalam Tarigan, 2009: 148) Peribahasa adalah kalimat atau kelompok perkataan yang tetap susunannya dan biasanya mengiaskan suatu maksud yang tentu. Secara leksikologis, peribahasa adalah (i) kelompok kata atau kalimat yang tetap susunannya dan biasanya mengiaskan maksud tertentu (dalam peribahasa termasuk juga bidal, perumpamaan, ungkapan); (ii) ungkapan atau kalimat-kalimat ringkas padat yang berisi perbandingan, perumpamaan, nasihat, prinsip hidup atau aturan tingkah laku (Depdikbud (dalam Pateda, 2010: 230)). Menurut KBBI, Peribahasa ialah kalimat yang ringkas dan padat berisi perbandingan, perumpamaan, nasihat, prinsip hidup atau tingkah laku.
Jadi, peribahasa ialah sekelompok kata atau kalimat yang disusun yang berisi maksud tertentu di dalamnya. Peribahasa dibagi menjadi beberapa jenis berdasarkan sudut pandang yang berbeda-beda. Peribahasa dibagi menjadi tiga jenis, yaitu :
1.    Pepatah;
2.    Perumpamaan; dan
3.    Ungkapan. (Tarigan, 2009: 148)

C.   Pepatah
Poerwadarminta (dalam Tarigan, 2009: 149) Pepatah adalah sejenis peribahasa yang mengandung nasihat atau ujaran yang berasal dari orang tua. Menurut KBBI, pepatah adalah peribahasa yang mengandung nasihat. Jadi, dapat disimpulkan bahwa pepatah adalah peribahasa yang berisi sebuah nasihat atau ajaran.
Contoh:
            Sepala-pala mandi biar basah
            (mengerjakan sesuatu perbuatan hendaklah sempurna, jangan             separuh-separuh).
            Datang tampak muka, pergi tampak punggung
            (Datang dengan baik, pergi pun harus dengan baik pula).
            Besar pasak dari tiang
            (Besar pengeluaran dari pendapatan).
D.   Perumpamaan
Poerwadarminta (dalam Tarigan, 2009: 152) Perumpamaan adalah ibarat, persamaan, perbandingan, peribahasa yang berupa perbandingan. Perbedaan utama antara pepatah dengan perumpamaan dapat dilihat dengan ciri-ciri utama perumpamaan, antara lain dapat dilihat jelas pada pemakaian secara eksplisit kata-kata: seperti, sebagai, laksana, baik, ibarat, bagaikan, seumpama, macam, dan umpama.
Contoh:
Bagai air di daun talas
(dikiaskan kepada orang yang tiada tetap hatinya, mudah berubah-ubah jika ada orang yang menyalahkan pendiriannya).
Seperti air dalam kolam.
(Kiasan kepada orang yang tenang sikap dan tingkah lakunya).
           
E.   Ungkapan
Depdikbud (dalam Pateda, 2010: 230) Ungkapan adalah: (i) apa-apa yang diungkapkan; (ii) kelompok kata atau gabungan kata yang menyatakan makna khusus; (iii) gerak mata atau tangan, perubahan air muka yang menyatakan perasaan hati. Ungkapan ialah perkataan atau kelompok kata yang khusus untuk mengatakan suatu maksud dengan arti kiasan, seperti :
Datang bulan  ( menstruasi bagi perempuan);
Darah Biru ( keturunan bangsawan).
(Naafiah, 2012: 145).
Contoh :
“Saya senang sebab Ali ringan kaki.” Kata kuncinya adalah ringan kaki. Bagaimanakah orang yang ringan kaki? Orang ringan kaki tentu saja kalau disuruh berjalan cepat. Berdasarkan makna kata kunci ditambah dengan asosiasi terhadap kenyataan sebenarnya, orang dapat memastikan makna ungkapan tadi, yakni Ali yang rajin sekali.
F.    Makna Kias
Dalam kehidupan sehari-hari dan juga dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia susunan W.J.S Poerwadarminta ada digunakan istilah arti kiasan (Chaer, 2009: 77). Tampaknya penggunaan istilah arti kiasan ini sebagai oposisi dari arti sebenarnya. Oleh karena itu, semua bentuk bahasa (baik kata, frase, maupun kalimat) yang tidak merujuk pada arti sebenarnya (arti leksikal, arti konseptual, atau arti denotatif) disebut mempunyai arti kiasan. Jadi, bentuk-bentuk seperti puteri malam dalam arti ‘bulan’, raja siang dalam arti ‘matahari’, daki dunia dalam arti ‘harta, uang’, membanting tulang dalam arti ‘bekerja keras’, kapal padang pasir dalam arti ‘unta’, pencakar langit dalam arti ‘gedung bertingkat tinggi’, dan kata bunga dalam kalimat  Aminah adalah bunga di desa kami dalam arti ‘gadis cantik’, semuanya mempunyai arti kiasan.
G.   Makna Kata dan Makna Istilah
Makna sebuah kata, walaupun secara sinkronis tidak berubah, tetapi karena berbagai faktor dalam kehidupan, dapat menjadi bersifat umum. Makna kata itu baru menjadi jelas kalau sudah digunakan di dalam sebuah kalimat. Kalau lepas dari konteks kalimat, makna kata itu menjadi umum dan kabur. Misalnya kata tahanan. Apa makna kata tahanan? Mungkin saja yang dimaksud dengan tahanan itu adalah ‘orang yang ditahan’, tetapi bisa juga ‘hasil perbuatan menahan’, atau mungkin makna yang lainnya lagi. Begitu juga dengan kata air. Apa yang dimaksud dengan air itu? Apakah air yang berada di sumur? di gelas? atau di bak mandi? atau yang turun dari langit? Kemungkinan-kemungkinan itu bisa saja terjadi karena kata air itu lepas dari konteks kalimatnya.
Berbeda dengan kata yang maknanya masih bersifat umum, maka istilah memiliki makna yang tetap dan pasti. Ketetapan dan kepastian makna istilah itu karena istilah itu hanya digunakan dalam bidang kegiatan atau keilmuan tertentu. Jadi, tanpa konteks kalimatnya pun makna istilah itu sudah pasti. Misalnya, kata tahanan di atas. Sebagai kata, makna kata tahanan masih bersifat umum, tetapi sebagai istilah misalnya dalam bidang hukum makna kata tahanan itu sudah pasti, yaitu orang yang ditahan sehubungan dengan suatu perkara.
Makna kata sebagai istilah memang dibuat setepat mungkin untuk menghindari kesalahpahaman dalam bidang ilmu atau kegiatan tertentu. Dalam bidang kedokteran, misalnya, kata tangan dan lengan digunakan sebagai istilah untuk pengertian yang berbeda. Tangan adalah dari pergelangan sampai ke jari-jari; sedangkan lengan dari pergelangan sampai ke pangkal bahu. Sebaliknya dalam bahasa umum lengan dan tangan dianggap bersinonim, sama maknanya. Begitu juga dengan pasangan kata kaki dan tungkai, telinga dan kuping yang dalam bahasa umum dianggap bersinonim, tetapi sebagai istilah kedokteran diperbedakan maknanya. Kaki adalah bagian dari mata kaki sampai ujung jari, sedangkan tungkai adalah bagian dari mata kaki sampai pangkal paha. Begitu juga telinga adalah bagian dalam dari alat pendengaran sedangkan kuping adalah bagian luarnya.
Di luar bidang istilah sebenarnya dikenal juga adanya pembedaan kata dengan makna umum dan kata dengan makna khusus atau makna yang lebih terbatas. Kata dengan makna umum mempunyai pengertian dan pemakaian yang lebih luas, sedangkan kata dengan makna khusus atau makna terbatas mempunyai pengertian dan pemakaian yang lebih terbatas. Umpamanya dalam deretan sinonim besar, agung, akbar, raya, dan kolosal; kata besar adalah kata yang bermakna umum dan pemakaiannya lebih luas daripada kata yang lainnya. Kita dapat mengganti kata agung, akbar, raya, dan kolosal, dengan kata besar itu secara bebas. Frase Tuhan yang maha Agung dapat diganti dengan Tuhan yang maha Besar; frase rapat akbar dapat diganti dengan rapat besar; frase hari raya dapat diganti dengan hari besar, dan frase film kolosal dapat diganti dengan film besar. Sebaliknya frase rumah besar tidak dapat diganti dengan rumah agung, atau juga rumah kolosal. Begitu juga dengan deretan sinonim melihat, mengintip, melirik, meninjau, dan mengawasi. Kata melihat memiliki makna umum, sedangkan yang lainnya memiliki makna “melihat dengan kondisi tertentu”. Kata mengintip mengandung makna ‘melalui celah sempit’; kata melirik mengandung makna, ‘dengan sudut mata’; kata meninjau mengandung makna ‘dari kejauhan’, dan kata mengawasi mengandung makna ‘dengan sengaja’.


URUTAN PERKEMBANGAN PEMEROLEHAN BAHASA



BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Urutan Perkembangan Pemerolehan Bahasa
Urutan perkembangan pemerolehan bahasa dapat dibagi atas tiga bagian penting: (1) perkembangan prasekolah, (2) perkembangan ujaran kombinatori, (3) perkembangan masa sekolah. Berikut ini akan dibicarakan satu-persatu.
1.  Perkembangan Prasekolah
Perkembangan pemerolehan bahasa anak-anak prasekolah dapat dibagi lagi atas perkembangan pralinguistik, tahap satu kata, dan ujaran kombinasi permulaan.
a.    Perkembangan Pralinguistik
Ada kecendrungan untuk menganggap bahwa perkembangan bahasa anak-anak diawali ketika dia mengatakan kata pertamanya yang menjadi tugas para ibu untuk mencatatnya pada buku bayi anak tersebut. Ada dua jenis fakta yang dikutip oleh peneliti untuk menunjang teori pembawaan lahir mereka adalah: kehadiran pada waktu lahir struktur-struktur yang diadaptasi dengan baik bagi bahasa, dan kehadiran perilaku-perilaku sosial umum dan juga kemampuan-kemampuan khusus bahasa pada beberapa bulan pertama kehidupan.
Selama satu tahun pertama, sang anak mengembangkan sejumlah konsep dan kemampuan yang merupakan syarat penting bagi ekspresi linguistik. Sang anak mengembangkan suatu pengertian mengenai diri sendiri dan orang lain sebagai kesatuan lahir yang berbeda, pengertian yang harus orang lain sebagai kesatuan lahir yang berbeda, pengertian yang harus dimiliki oleh seseorang kalau “dirinya” sedang berkomunikasi dengan “yang lain”. Pada akhir tahun pertama, secara khusus, sang anak telah mengembangkan landasan pengertian-pengertian kognitif yang banyak: konsep diri sendiri dan orang lain, konsep manusia dan benda, konsep sarana dan tujuan. Baik kognitif maupun aspek sosial merupakan landasan penting bagi perkembangan bahasa selanjutnya.
b.    Tahap Satu Kata
Merupakan suatu dugaan umum bahwa sang anak pada tahap satu kata terus- menerus berupaya mengumpulkan nama-nama benda dan orang di dunia. Akan tetapi, secara khusus, kosakata permulaan sang anak mencakup tipe kata-kata lain juga. Yakni merupakan hal biasa mencari dan menemukan kata-kata tindak (seperti ; pergi, datang, makan, minum, duduk, tidur), ekspresi-ekspresi sosial (seperti: hei, helo), kata-kata lokasional (di sini, di atas, di sana), dan kata-kata pemerian (seperti: panas, dingin, besar, kecil). Dengan sejumlah kata yang relative terbatas, seorang anak dapat mengekspresikan berbagai ragam makna dan relasi dalam berbagai konteks. Sampai akhir tahap satu kata, sanag anak dapat menggunakan nomina untuk memperkenalkan objek (misalnya: buku gambar “permainan memberi nama” dengan orang dewasa), untuk menarik perhatian seorang pada sesuatu, atau menyatakan sesuatu yang diinginkannya. Kadang-kadang, dia memakai suatu nomina untuk menyatakan penerima (misalnya sesorang yang menerima sesuatu (agen), ‘kadang-kadang menyatakan objek sesuatu tindakan, dan kadang-kadang untuk menyatakan penerima (misalnya seseorang yang menerima sesuatu dari anak itu).
Sang anak dapat memakai nomina untuk menyatakan lokasi (misalnya: meja atau kotak sebagai tempat meletakkan sesuatu) atau untuk menyatakan orang yang ada hubungannya dengan suatu objek (msialnya: Papa,Mama). Perlu diingat bahwa situasi pemakaian kata tunggal tersebut sangat perlu diketahui oleh orang dewasa agar dia dapat memberi interprestasi makna yang tepat. Dan juga situasi perlu bagi sang anak pada saat dia mengekspresikan makna; karena justru dalam situasi  yang tepatlah, baru dia dapat menyampaikan makna kata yang dipakainya.
Apabila sang anak telah mengembangkan sejumlah kata dan cara menggunakan untuk mengekspresikan berbagai makna, dia cendreung memilih/lebih dalam situasi tertentu kata yang paling informative. Yang paling menarik dan mengesankan lagi ialah ketika sang anak pada tahap ini mampu mengekspresikan begitu banyak kata-kata yang begitu sedikit.

c.    Ujaran Kombinatori Pemulaan
Menurut Brown (dalam, Tarigan 2011: 19) bahwa untuk mempergunakan jumlah morfem rata-rata per ucapan sebagai ukuran panjangnya, yang disebut “mean length of utterance” (atau MLU) atau “panjang ucapan rata-rata” (PUR). Mereka menemukan lima tahapan pada pemerolehan bahasa permulaan, dan setiap tahap dibatasi oleh panjang ucapan rata-rata. Untuk setiap tahap, mereka juga menyarankan suatu “upper bound” (UB) atau “loncatan atas” (LA), yaitu suatu hal yang secara khusus merupakan ucapan terpanjang (dalam morfem-morfem) dalam tahap-tahap Brown sebagai rentangan PUR ataupun sebagai butir-butir PUR sentral. Perhatikan tabel berikut.
TAHAP
PUR (butir)
PUR (rentangan)
LA
1
1.75
1.5 – 2.0
5
2
2.25
2.0 – 2.5
7
3
2.75
2.5-3.0
9
4
3.50
3.0-3.5
11
5
4.00
3.5-4.0
13
Sampai tahapan 5, PUR 4.0, penambahan panjang mencerminkan pertambahan kompleksitas atau kerumitan. Secara khusus, anak kecil dapat saja berkata “Pa mam” dan kemudian “papa mamam” dan kemudian “papa makan”. sebaik ujaran kombinasi sang anak berkembang, bergerak dari suatu system yang kebanyakan merupakan gabungan dua atau tiga kata yang tidak berinfleksi, butir-butir yang berisi berat. PUR merupakan indikator yang baik bagi pertumbuhan bahasa permulaan dan memang banyak ahli riset yang memanfaatkan tahap-tahap Brown tersebut. Akan tetapi, setelah PUR 4,0, panjang ucapan tidak begitu menolong lagi bagi pengukuran pertumbuhan bahasa karena tidak lagi mencerminkan kerumitan apa yang diketahui anak-anak, system memudahkan mereka menghasilkan bentuk-bentuk dihilangkan. Jadi, kesinambungan dalam makna anak-anak dan ujaran satu kata menjadi ujaran kombinasi justru sama pentingnya dengan perubahan dalam cara anak-anak mengekspresikan makna-makna mereka

2.    Perkembangan Ujaran Kombinatori
Pembicaraan menegenai perkembangan ujaran kombinasia anak-anak ini dibagi beberapa bagian, yaitu: perkembangan negative (penyangkalan); perkembangan interogatif (pertanyaan); perkembangan penggabungan kalimat; dan perkembangan system bunyi.
a.    Perkembangan Negatif
Apabila kita menggunakan “negatif”, kalau kita menggunakan “tidak”, jelas kita ingin mengatakan berbagai hal.
Contoh:
     Ya, saya tidak punya uang
     Tidak, saya tidak mau itu
Paling tidak, pengertian kita tentang negatif mencakup “noneksistensi”, “penolakan”, dan “penyangkalan”, seperti pada kalimat-kalimat di atas itu. Berikut ini, contoh pengertian negatif.
NONEKSISTENSI : Tidak ada bantal
                                   Tidak ada uang
                                   Tidak ada sepatu
PENOLAKAN        : Tidak mau
                                   Tidak suka
                                   Tidak minum susu
PENYANGKALAN : Bukan merah (tetapi putih)
                                    Bukan ibu (tetapi nenek)
b.    Perkembangan Interogatif
Pada umumnya, “pertanyaan”itu menurut informasi, menagih keterangan. Ada tiga tips struktur interogatif yang utama untuk mengemukakan pertanyaan, yaitu:
1.    Pertanyaan yang menuntut jawaban YA atau TIDAK;
2.    Pertanyaan yang menuntut INFORMASI.
3.    Pertanyaan yang menuntut jawab SALAH SATU DARI YANG BERLAWANAN.

c.    Perkembangan Penggabungan Kalimat
Sarana-sarana/cara-cara pengembangan penggabungan kalimat sang anak memperlihatkan gerakan melalui beberapa dimensi, yaitu: dari penggabungan dua klausa setara menuju penggabungan dua klausa yang tidak setara; dari klausa-klausa utama yang tidak tersela menuju penggunaan klausa-klausa yang tersela; dari susunan klausa yang memuat kejadian tetap menuju susunan klausa yang bervariasi; dan dari penggunaan perangkat-perangkat semantic-sintaksis yang kecil menuju perangkat-perangkat yang lebih diperluas.
d.    Perkembangan Sistem Bunyi
Keterampilan berucap atau mengucapkan kata-kata menjadi semakin terkontrol dan diperbaiki dengan pemakaian dalam praktik. Perkembangan komponen ini memang lebih bersifat fisik, dan seperti halnya dalam perkembangan kemampuan-kemampuan fisik lainnya, praktik dan pelatihan sungguh membantu membawa keterampilan itu dibawah pengawasan.
2.1.1     MEKANISME UMUM BAGI PEMEROLEHAN BAHASA
Menurut Jean A. Rondal (dalam, Tarigan 2011: 42), berdasarkan data-data yang dia pergunakan, agaknya dapat disarankan adanya suatu mekanisme-makro-umum bagi pemeroleh bahasa (pertama) pada diri sang anak. Pakar ini mengemukakan sangat besar sekali kemungkinan bahwa bagian terbesar dari proses pemerolehan bahasa mengambil tempat pada konteks umum interaksi timbale balik dengan para pembicara lebih dewasa.
          Pengetahuan orang tua mengenai perkembangan bahasa anak pada umumnya dan mengenai tuturan anak mereka pada khususnya, harapan-harapan mereka berkenan dengan perkembangan bahasa pada anak mereka, dan produk dari analisis mereka mengenai aneka produksi verbal dan aneka reaksi reseptif sebagian besar menentukan cirri-ciri formal ujaran yang mereka sajikan kepada sang anak, khususnya tingkat penyesuaian atau adaptasi tempat ujaran itu berlangsung.
          Ujaran orang dewasa yang diekspresikan dalam konteks ekstra linguistic tertentu dengan iringan paraverbal tertentu memberi masukan kepada sang anak dalam komunikasi lingistik.

2.1.2     KERANGKA BAGI TEORI PEMEROLEHAN BAHASA
Berbicara mengenai kerangka teori pemerolehan bahasa, kita sebenarnya membicarakan salah satu fundamen teori keterpelajaran. Dengan teori pemerolehan bahasa, kita ingin mengetahui serta mengetengahkan teori yang memudahkan anak-anak belajar bahasa. Keluaran belajar bahasa merupakan suatu kaidah bagi bahasa orang dewasa. Sistem kaidah atau tata bahasa ini terdiri atas kaidah-kaidah, aturan-aturan, prinsip-prinsip, dan ketetapan parameter yang terendap dalam kosakata formal, termasuk kategori-kategori sintaksis (nomina,verba,dll), relasi-relasi gramatikal serta kasus (subjek, objek, nominative, okusuatif, dsb.), dan bentuk-bentuk struktur frasa. Jadi, pemerolehan bahasa terdiri atas penyelesaian sang anak terhadap susunan kesatuan lahiriah dalam masukan untuk menentukan kombinasi-kombinasi yang mana saja di antaranya yang dibolehkan atau diizinkan oleh bahasa.

2.1.3     SALAH PENGERTIAN MENGENAI PEMEROLEHAN BAHASA
Banyak pakar mengungkapkan pendapat nya mengenai pemerolehan bahasa, sehingga sering terjadi salah paham mengenai pemerolehan bahasa ini. Tidak dapat disangkal bahwa terdapat kepercayaan dan keyakinan yang telah tersebar luas mengenai kepercayaan yang telah tersebar luas mengenai pemerolehan bahasa anak-anak, terutama PB2, yang belum dibuktikan kebenarannya.
          Upaya secara sistematis untuk mengenali sumber-sumber kesalahan dalam ujaran atau tuturan para pelajar bahasa kedua mengungkapkan bahwa relatif sangat sedikit kesalahan yang dibuat oleh para pelajar bahasa kedua dapat dikaitkan dengan interferensi dari bahasa pertama mereka. Pada umumnya, tidak lebih dari sepertiga jumlah kesalahan dalam korpus ujaran dapat dikenali sebagai yang ada hubungannya dengan gangguan struktur-struktur bahasa pertama. Mayoritas kesalahan yang dibuat oleh para pelajar bahasa kedua merupakan akibat dari penggeneralisasian dan salah menerapkan kaidah-kaidah bahasa kedua sebelum mereka menguasainya dengan baik, dalam morfologi dan sintaksis. Beberapa kesalahan memang unik yang seakan-akan tidak mencerminkan faktor-faktor perkembangan atau struktur bahasa pertama.

















BAB III
KESIMPULAN

          Perkembangan pemerolehan bahasa ditentukan dari seorang ibu kepada anak dengan menggunakan sejumlah konsep dan kemampuan ekspresi linguistik. Dalam urutan perkembangan pemerolehan bahasa seorang anak akan menjelajahi perkembangan masa prasekolah, yang dari setiap anak akan melalui tahap perkembangan pralinguistik saat anak baru dapat berkata dengan menggunakan satu atau dua kata yang baru ia kenal. Ketika anak mulai dapat membentuk suatu bahasa yang baik, maka ia akan berkata dengan mengucapkan kata-kata permulaan kepada orang disekitarnya.
            Ketika anak melalui proses perkembangan ujaran kombinatori maka anak akan dapat menyusun kata-kata hingga menjadi kalimat. Anak mulai dapat bertanya dengan adanya penggabungan kalimat hingga menjadi perkembangan dalam sistem bunyi bahasa. Anak akan mengalami perkembangan setiap fase umurnya. Ketika anak mulai masuk ke dalam perkembangan masa sekolah, anak akan membentuk struktur bahasa dan anak pun akan terbiasa menggunakan atau memakai bahasa yang baik untuk ia gunakan dalam berbicara.