Selasa, 08 Oktober 2013

KEBUTUHAN DAN POLA HUBUNGAN MANUSIA SEBAGAI INSAN PENDIDIKAN




A. KEBUTUHAN DAN POLA HUBUNGAN MANUSIA SEBAGAI INSAN PENDIDIKAN.

Filsafat pendidikan ialah hasil pemikiran dan perenungan secara mendalam sampai ke akar-akarnya mengenal pendidikan. (Pidarta,2007: 84) Dengan kemampuan pengetahuan yang benar, manusia berusaha menjaga dan mengembangkan kelangsungan hidupnya. Manusia berusaha mengamalkan ilmu pengetahuannya dalam perilaku sehari-hari. Dalam peilaku sehari-hari, pengetahuan berubah menjadi moral, dan kemudian menjadi etika kehidupan, sedemikian rupa sehingga hakikat perilaku berupa kecenderungan untuk mempertanggungjawabkan kelangsungan dan perkembangan hidup dan kehidupan ini sepenuhnya.
Sedangkan tanggung jawab yang demikian itu berbentuk nilai keadilan. Adil terhadap diri sendiri, terhadap sesama manusia, dan lebih-lebih terhadap alam dimana hidup dan kehidupan ini berlangsung. Karena tanpa diri dan atau kepribadiannya, seorang manusia tidak mungkin bisa memerankan arti dan fungsinya sebagai manusia, tanpa sesama manusia lainnya, seorang manusia tidak mungkin mampu berada dan melangsungkan keberadaannya dan lebih-lebih tanpa potensi alam, manusia siapa pun tidak mungkin berada.
Sejak lahir, seorang manusia sudah langsung terlibat di dalam kegiatan pendidikan dan pembelajaran. Dia dirawat, dijaga, dilatih, dan dididik oleh orang tua, keluarga dan masyarakatnya menuju tingkat kedewasaan dan kematangan, sampai kemudian terbentuk potensi kemandirian dalam mengelola kelangsungan hidupnya. Kegiatan pendidikan dan pembelajaran itu diselenggarakan mulai dengan cara-cara konvensional (alami) menurut pengalaman hidup, sampai pada cara-cara formal yang metodik dan sistematik institusional (pendidikan sekolah), menurut kemampuan konseptik-rasional.
Setelah taraf kedewasaan dicapai, manusia tetap melanjutkan kegiatan pendidikan dalam rangka pematangan diri. Kematangan diri adalah kemampuan menolong dri sendiri, orang lain dan terutama menolong kelestarian alam agar tetap berlangsung dalam ekosistemnya. Dengan kata lain, pematangan diri adalah bentuk kegiatan pendidikan lanjutan, yakni upaya manusia untuk menjadi semakin arif dengan sikap dan perilaku adil terhadap apa pun dan siapa pun yang menjadi bagian bagian integral dari eksistensi kehidupan ini.
Pada pokoknya persolan pendidikan adalah persoalan yang lingkupannya seluas persoalan kehidupan manusia itu sendiri. Masalah pendidikan secara kodrati melekat pada dan dalam diri manusia. Secara langsung atau tidak, setiap kegiatan hidup manusia selalu mengandung arti dan fungsi pendidikan. Dengan pendidikan, manusia melakukan kegiatan makan, minum, bekerja, beristirahat, bermasyarakat, beragama dan sebagainya.
Dengan demikian, antara manusia dan pendidikan terjalin hubungan kasualitas. Karena manusia, pendidikan mutlak ada, dan karena pendidikan, manusia semakin menjadi diri sendiri sebagai manusia yang manusiawi.
Manusia adalah makhluk yang sangat memerlukan pendidikan atau bisa disebut juga dengan “homo educandum”.  Manusia dipanggil sebagai homo educandum karena manusia tidak dapat dipisahkan dari pendidikan, manusia memerlukan pendidikan dan harus dididik terhadap setiap individu.
Pengertian “homo educandum” menyiratkan adanya tiga subpredikat lainnya, yaitu homo educandee also­­ (makhluk terdidik), homo educabile (makhluk yang dapat dididik), dan homo educandum (mahluk pendidikan). Oleh sebab itu, pendidikan bagi manusia sangat penting, karena pendidikan tersebut merupakan salah satu usaha dalam rangka memanusiakan manusia dan memanusiawikan manusia.
Dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003, pendidikan diharapkan dapat berfungsi dalam mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bretakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cukup, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Sasaran pendidikan ini berfungsi sebagai alat atau sarana serta jalan untuk membuat perubahan menuju perkembangan hidup. Pada titik ini manusia mewujudkan dirinya sebagai makhluk berpendidikan.
Tersirat dalam kodratnya, manusia sebagai makhluk pendidikan, atas dasar potensi kodrat cipta, rasa, karsa dan karyanya, manusia berkemampuan untuk dididik, mendidik diri dan makhluk yang dapat dididik.

B.   MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK YANG PERLU DIDIDIK DAN MENDIDIK DIRI
Manusia adalah makhluk yang perlu dididik dan mendidik drinya. Terdapat tiga prinsip antopologis yang menjadi asumsi perlunya manusia mendapatkan pendidikan dan perlu mendidik diri, yaitu: 1) prinsip historitas, 2) proinsip idealitas, dan 3) prinsip posibilitas/aktualitas.
Eksistensi manusia tiada lain adalah untuk menjadi manusia. Eksistensi manusia tersebut terpaut dengan masa lalunya sekaligus mengarah ke masa depan untuk mencapai tujuan hidupnya. Dengan demikian, mausia berada dalam perjalanan hidup, dalam perkembangan dan pengembangan diri. Ia adalah manusia tetapi sekaligus “belum selesai” mewujudkan dirinya sebagai manusia (prinsip historisitas).
Bersamaan dengan hal diatas, dalam eksistensinya manusia mengemban tugas untuk menjadi manusia ideal. Sosok manusia ideal merupakan gambaran manusia yang dicita-citakan atau yang seharusnya. Sebab itu, sosok manusia ideal tersebut belum terwujudkan melainkan harus diupayakan untuk dapat diwujudkan (prinsip idealitas).
Permasalahannya, bagaimana mungkin manusia dapat menjadi manusia? Terlebih dahulu kita bandingkan sifat perkembangan hewan dan sifat perkembangan manusia. Perkembangan hewan bersifat terspesialisasi/tertutup. Contoh: Seekor anak kucing lahir sebagai anak kucing, selanjutnya ia hidup dan berkembang sesuai kodrat dan martabat ke-kucing-annya (menjadi kucing). Kita tidak pernah menemukan bahwa ada seekor anak kucing yang berkembang menjadi seekor kambing, karena hal itu sangatlah mustahil terjadi. Sebaliknya, perkembangan pada manusia sifatnya terbuka. Manusia memang telah dibekali berbagai potensi untuk mampu menjadi seorang manusia, misalnya: potensi untuk beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, potensi untuk dapat berbuat baik, potensi cipta, rasa, karsa, karya, dsb. Namun, setelah kelahirannya, bahwaa potensi itu mungkin terwujudkan, kurang terwujudkan atau bahkan tidak terwujudkan. Manusia mungkin berkembang sesuai dengan kodrat dan martabat kemanusiaannya (menjadi manusia seutuhnya), sebaliknya mungkin pula ia brekembang ke arah yang kurang atau tidak sesuai dengan kodrat dan martabat kemanusiaannya (kurang/tidak menjadi manusia).
Dalam kehidupan sehari-hari, kita dapat menemukan berbagai fenomena perilaku orang-orang yang beriman dan bertakwa kepada Tuhannya, orag-orang yang berperilaku sesuai dengan nilai dan budaya masyarakatnya, dsb. Di samping itu, kita pun dapat menyaksikan orang-orang yang berperilaku kurang/tidak sesuai dengan perilaku manusia yang seharusnya, baik menurut nilai, norma agama maupun budayanya. Misalnya seseorang yang berperilaku koruptor bak tikus kantor?
Anne Rollet, ia melaporkan bahwa sampai tahun 1976 para entolog telah mencatat 60 anak-anak buas yang hidup bersama dan dipelihara oleh binatang. Tidak diketahui bagaimana awal kejadiannya, yang jelas ia menemukan bahwa diantara ke-60 anak tersebut ada yang dipelihara oleh serigala, kijang, kera, dsb. Anak-anak tersebut akhirnya berperilaku tidak sebagaimana layaknya manusia, melainkan betingkah laku sebagaimana binatang yang memeliharanya. Mereka tidak berpakaian, bertindak agresif untuk menyerang dan menggigit, tidak dapat tertawa, ada yang tidak dapat berjalan tegak, tidak berbahasa sebagaimana bahasanya manusia,dll. (Insisari No.160 Tahun ke XIII, No-VEMBER 1976:81-86). Demikianah perkembangan hidup manusia bersifat terbuka atau serba mungkin. Inilah prinsip posibilitas/prinsip aktualitas.
            Dari uraian tersebut, dapat dipahami bahwa berbagai kemampuan yang seharusnya dilakukan manusia tidak dibawa sejak kelahirannya., melainkan harus diperoleh setelah kelahirannya dalam perkembangan menuju kedewasaannya. Di satu pihak, berbagai kemampuan tersebut diperoleh manusia melalui upaya bantuan dari pihak lain. Mungkin dalam bentuk pengasuhan, pengajaran, latihan, bimbingan, dan berbagai bentuk kegiatan lainnya yang dapat dirangkumkan dalam istilah pendidikan.
            Di lain pihak, manusia juga harus belajar atau harus mendidik diri. Dalam bereksistensi yang harus menjadikan diri itu hakikatnya adalah manusia itu sendiri. Sebaik dan sekuat apapun upaya yang diberikan oleh pihak lain (pendidik) kepada seseorang (peserta didik) untuk membantunya menjadi manusia, tetapi apabila seseorang tersebut tidak mau mendidik diri, maka upaya bantuan tersebut tidak akan memberikan kontribusi apapun bagi kemungkinan seseorang tadi untuk emnjadi manusia. Jika sejak kelahirannya perkembangan dan pengembangan kehidupan manusai diserahkan kepada dirinya masing-masing tanpa dididik oleh orang lain dan tanpa upaya mendidik diri dari pihak manusia yang bersangkutan, kemungkinannya ia akan hanya hidup berdasarkan dorongan instinknya saja.
            Manusia belum selesai menjadi manusia, ia dibebani keharusan untuk menjadi manusia, tetapi ia tidak dengan sendirinya menjadi manusia, untuk menjadi manusia ia perlu dididik dan mendidik diri. “Manusia dapat menjadi manusia hanya melalui pendidikan” demikian kesimpulan Immanuel Kant dalam teori pendidikannya (Henderson,1959). Pernyataan tersebut sejalan dengan hasil studi M.J. Langeveld yang memberikan identitas kepada manusia dengan sebutan Animal Educandum (M.J. Langeveld,1980).
           
C.    MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK YANG DAPAT DIDIDIK
Manusia perlu dididik dan mendidik diri. Berdasarkan konsep hakikat manusia, dapat ditemukan lima prinsip antropologis yang melandasi kemungkinan manusia akan dapat dididik, yaitu:

1.            Prinsip Potensialitas
Pendidikan bertujuan agar seseorang menjadi manusia yang ideal. Sosok manusia yang ideal tersebut antara lain adalah manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, bermoral dan berakhlak terpuji/mulia, pintar, cerdas, mempunyai perasaan, mempunyai kemamuan, mampu berkarya, menghasilkan sesuatu, dst. Manusia pun memiliki berbagai macam potensi, yaitu potensi untuk beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, potensi untuk berbuat baik, potensi cipta, potensi rasa, potensi karsa dan potensi karya. Sebab itu, manusia akan dapat dididik karena manusia sudah memiliki potensi untuk menjadi manusia yang ideal.

2.              Prinsip Dinamika
Ditinjau dari sudut pendidik, pendidikan diupayakan dalam rangka membantu manusia (peserta didik) agar menjadi manusia yang ideal. Manusia itu sendiri memiliki dinamika untuk menjadi manusia yang ideal. Manusia seelalu aktif baik dalam aspek fisiologik maupun spiritualnya. Ia selalu menginginkan dan mengejar segala hal yang lebih dari apa yag telah ada atau yang telah dicapainya. Ia berupaya untuk mengaktualisasikan diri agar menjadi manusia ideal, baik dala rangka interaksi/komunikasinya secara horizontal maupun vertikal. Karena itu dinamika manusia mengimplikasikan bahwa ia akan dapat dididik.

3.              Prinsip Individualitas
Praktek pendidikan merupakan upaya membantu manusia (peserta didik) yang antara lain diarahkan agar ia mampu menajdi dirirnya sendiri. Di pihak lain, manusia (peserta didik) adalah individu yang memiliki kesendirian (subyektifitas), bebas dan aktif berupaya untuk menjadi dirinya sendiri. Sebab itu, individualitas mengimplikasikan bahwa manusia akan dapat dididik.



4.              Prinsip Sosialitas
Pendidikan belangsung dalam pergaulan (interaksi/komunikasi) anatar sesama manusia (pendidik dan peserta didik). Melalui pergaulan tersebut pengaruh pendidikan disampaikan pendidik dan diterima peserta didik. Hakikat manusia adalah makhluk sosial, ia hidup bersama dengan sesamanya. Dalam kehidupan bersama dengan sesamanya ini akan terjadi hubungan pengaruh timbal balik di mana setiap individu akan menerima pengaruh dari individu yang lainnya. Sebab itu, sosialitas meimplikasikan bahwa manusia akan dapat dididik.

5.              Prinsip Moralitas
Pendidikan bersifat normtif, artinya dilaksanakan berdasarkan system nilai norma dan nilai tertentu. Di samping itu, pendidikan bertujuan agar manusia berakhlak mulia agar manusia berperilaku sesuai dengan nilai-nilai dan norma-norma yang bersumber dari agama, masyarakat dan budayanya. Di pihak lain, manusia berdimensi moralitas, manusia mampu membedakan yang baik dan yang jahat. Sebab itu, dimensi moralitas mengimplikasikan bahwa manusia akan dapat dididik.
Atas dasar berbagai asumsi di atas, jelas kiranya bahwa mnausia akan dapat dididik, sehubungan dengan ini M.J. Langenveld (1980) memberikan identitas kepada manusia sebagai “Animal Educabile”. Dengan mengacu pada asumsi ini diharapkan kita sebagai manusia harus bersikap sabar dan tabah dalam melaksanakan pendidikan.  

D.            MANUSIA MAKHLUK BERPENDIDIKAN
Manusia sebagai objek pendidikan adalah manusia dalam perwujudannya sebagai individu yang menjadi bagian integral dari masyarakatnya. Dua sisi perwujudan ini dipandang penting dan perlu untuk proses dalam sistem pendidikan, agar dikemudian hari manusia dapat menemukan jati dirinya sebagai manusia. Berulang kali dinyatakan bahwa tanpa pendidikan, manusia tidak mungkin bisa menjalankan tugas dan kewajibannya di dalam kehidupan, sesuai dengan hakikat asal-mula dan hakikat tujuan hidupnya. Sehubungan dengan hal itu, pendidikan secara khusus difungsikan untuk menumbuh kembangkan segala potensi kodrat (bawaan) yang ada dalam diri manusia.
Potensi kejiwaan cipta, rasa dan karsa mutlak perlu mendapat bimbingan berkelanjutan, karena ketiganya adalah potensi kreatif dan dinamis khas manusia. Adapun sasaran pembimbingan dalam sistem kegiatan pendidikan adalah menumbuhkan kesadaran atas eksistensi kehidupannya sebagai manusia yang berasal mula dan betujuan. Di dalam sistem kegiatan pendidikan berkelanjutan, kesadaran tersebut menjadi dinamis untuk kemudian bisa membuahkan kecerdasan spiritual.
Tersirat dalam kodratnya sebagai makhluk pendidikan, atas potensi kodrat cipta, rasa dan karsanya, manusia berkemampuan untuk dididik dan mendidik. Kemampuan dididik berarti tiga potensi kejiwaannya itu sejak kecil bisa menerima perawatan, pertolongan dan pembimbingan dari orang lain. Sedangkan kemampuan mendidik berarti pada tingkat kesadaran dan keadaan tertentu, manusia bisa melakukan perawatan, pembinaan dan pertolongan kepada orang lain. Dengan kemampuan pendidikan inilah manusia terus membuat perubahan untuk mengembangkan hidup dan kehidupan dirinya sebagai manusia. Karena pendidikan adalah masalah khas kodrati manusia, sepanjang ada manusia, pendidikan akan selalu ada. Jadi bagi manusia, pendidikan adalah mutlak. Karena itu, tanpa  pendidikan manusia tidak mungkin mampu mencptakan perubahan untuk mengembagkan hidup dan kehidupannya. Sebab, jika hanya dengan insting saja, keberadaan manusia dipastikan akan segera punah.
Manusia haruslah bersikap dan berpilaku adil terhadap diri sendiri, masyarakat dan terhadap alam. Agar bisa berbuat demikian, manusia harus berusaha mendapatkan pengetahuan yang benar mengenai keberadaan segala sesuatu yang ada ini,dar mana asalanya, bagaimana keberadaannya, dan apakah menjadi tujuan akhir keberadaan tersebut. Untuk itu, manusia harus mendidik diri sendiri dan sesamanya secara terus-menerus.



BAB III
KESIMPULAN
Pendidikan adalah proses penyesuian diri secara timbal balik antara manusia dengan alam, dengansesama manusia atau juga pengembangan dan penyempurnaan secara teratur dari semua potensi moral,intelektual, dan jasmaniah manusia oleh dan untuk kepentingan pribadi dirinya dan masyarakat yangditujukan untuk kepentingan tersebut dalam hubungannya dengan Sang Maha Pencipta sebagai tujuan akhir.
Pendidikan mutlak harus ada pada manusia, karena pendidikan merupakan hakikat hidup dankehidupan. Pendidikan berguna untuk membina kepribadian manusia. Dengan pendidikan maka terbentuklahpribadi yang baik sehingga di dalam pergaulan dengan manusia lain, individu dapat hidup dengan tenang.Pendidikan membantu agar tiap individu mampu menjadi anggota kesatuan sosial manusia tanpa kehilanganpribadinya masing-masing.
Pada hakikatnya pendidikan menjadi tanggung jawab bersama, yakni keluarga, masyarakat, dansekolah/ lembaga pendidikan. Keluarga sebagai lembaga pertama dan utama pendidikan, masyarakat sebagaitempat berkembangnya pendidikan, dan sekolah sebagai lembaga formal dalam pendidikan. Pendidikan keluarga sebagai peletak dasar pembentukan kepribadian anak.





2 komentar:

  1. Kak, ini ada daftar pustakanya nggak ya? Kalo mau posting makalah, tolong sekalian diposting juga daftar pustakanya. Makasih. :)

    BalasHapus