Selasa, 08 Oktober 2013

URUTAN PERKEMBANGAN PEMEROLEHAN BAHASA



2.1 Urutan Perkembangan Pemerolehan Bahasa
Urutan perkembangan pemerolehan bahasa dapat dibagi atas tiga bagian penting: (1) perkembangan prasekolah, (2) perkembangan ujaran kombinatori, (3) perkembangan masa sekolah. Berikut ini akan dibicarakan satu-persatu.
1.  Perkembangan Prasekolah
Perkembangan pemerolehan bahasa anak-anak prasekolah dapat dibagi lagi atas perkembangan pralinguistik, tahap satu kata, dan ujaran kombinasi permulaan.
a.    Perkembangan Pralinguistik
Ada kecendrungan untuk menganggap bahwa perkembangan bahasa anak-anak diawali ketika dia mengatakan kata pertamanya yang menjadi tugas para ibu untuk mencatatnya pada buku bayi anak tersebut. Ada dua jenis fakta yang dikutip oleh peneliti untuk menunjang teori pembawaan lahir mereka adalah: kehadiran pada waktu lahir struktur-struktur yang diadaptasi dengan baik bagi bahasa, dan kehadiran perilaku-perilaku sosial umum dan juga kemampuan-kemampuan khusus bahasa pada beberapa bulan pertama kehidupan.
Selama satu tahun pertama, sang anak mengembangkan sejumlah konsep dan kemampuan yang merupakan syarat penting bagi ekspresi linguistik. Sang anak mengembangkan suatu pengertian mengenai diri sendiri dan orang lain sebagai kesatuan lahir yang berbeda, pengertian yang harus orang lain sebagai kesatuan lahir yang berbeda, pengertian yang harus dimiliki oleh seseorang kalau “dirinya” sedang berkomunikasi dengan “yang lain”. Pada akhir tahun pertama, secara khusus, sang anak telah mengembangkan landasan pengertian-pengertian kognitif yang banyak: konsep diri sendiri dan orang lain, konsep manusia dan benda, konsep sarana dan tujuan. Baik kognitif maupun aspek sosial merupakan landasan penting bagi perkembangan bahasa selanjutnya.
b.    Tahap Satu Kata
Merupakan suatu dugaan umum bahwa sang anak pada tahap satu kata terus- menerus berupaya mengumpulkan nama-nama benda dan orang di dunia. Akan tetapi, secara khusus, kosakata permulaan sang anak mencakup tipe kata-kata lain juga. Yakni merupakan hal biasa mencari dan menemukan kata-kata tindak (seperti ; pergi, datang, makan, minum, duduk, tidur), ekspresi-ekspresi sosial (seperti: hei, helo), kata-kata lokasional (di sini, di atas, di sana), dan kata-kata pemerian (seperti: panas, dingin, besar, kecil). Dengan sejumlah kata yang relative terbatas, seorang anak dapat mengekspresikan berbagai ragam makna dan relasi dalam berbagai konteks. Sampai akhir tahap satu kata, sanag anak dapat menggunakan nomina untuk memperkenalkan objek (misalnya: buku gambar “permainan memberi nama” dengan orang dewasa), untuk menarik perhatian seorang pada sesuatu, atau menyatakan sesuatu yang diinginkannya. Kadang-kadang, dia memakai suatu nomina untuk menyatakan penerima (misalnya sesorang yang menerima sesuatu (agen), ‘kadang-kadang menyatakan objek sesuatu tindakan, dan kadang-kadang untuk menyatakan penerima (misalnya seseorang yang menerima sesuatu dari anak itu).
Sang anak dapat memakai nomina untuk menyatakan lokasi (misalnya: meja atau kotak sebagai tempat meletakkan sesuatu) atau untuk menyatakan orang yang ada hubungannya dengan suatu objek (msialnya: Papa,Mama). Perlu diingat bahwa situasi pemakaian kata tunggal tersebut sangat perlu diketahui oleh orang dewasa agar dia dapat memberi interprestasi makna yang tepat. Dan juga situasi perlu bagi sang anak pada saat dia mengekspresikan makna; karena justru dalam situasi  yang tepatlah, baru dia dapat menyampaikan makna kata yang dipakainya.
Apabila sang anak telah mengembangkan sejumlah kata dan cara menggunakan untuk mengekspresikan berbagai makna, dia cendreung memilih/lebih dalam situasi tertentu kata yang paling informative. Yang paling menarik dan mengesankan lagi ialah ketika sang anak pada tahap ini mampu mengekspresikan begitu banyak kata-kata yang begitu sedikit.

c.    Ujaran Kombinatori Pemulaan
Menurut Brown (dalam, Tarigan 2011: 19) bahwa untuk mempergunakan jumlah morfem rata-rata per ucapan sebagai ukuran panjangnya, yang disebut “mean length of utterance” (atau MLU) atau “panjang ucapan rata-rata” (PUR). Mereka menemukan lima tahapan pada pemerolehan bahasa permulaan, dan setiap tahap dibatasi oleh panjang ucapan rata-rata. Untuk setiap tahap, mereka juga menyarankan suatu “upper bound” (UB) atau “loncatan atas” (LA), yaitu suatu hal yang secara khusus merupakan ucapan terpanjang (dalam morfem-morfem) dalam tahap-tahap Brown sebagai rentangan PUR ataupun sebagai butir-butir PUR sentral. Perhatikan tabel berikut.
TAHAP
PUR (butir)
PUR (rentangan)
LA
1
1.75
1.5 – 2.0
5
2
2.25
2.0 – 2.5
7
3
2.75
2.5-3.0
9
4
3.50
3.0-3.5
11
5
4.00
3.5-4.0
13
Sampai tahapan 5, PUR 4.0, penambahan panjang mencerminkan pertambahan kompleksitas atau kerumitan. Secara khusus, anak kecil dapat saja berkata “Pa mam” dan kemudian “papa mamam” dan kemudian “papa makan”. sebaik ujaran kombinasi sang anak berkembang, bergerak dari suatu system yang kebanyakan merupakan gabungan dua atau tiga kata yang tidak berinfleksi, butir-butir yang berisi berat. PUR merupakan indikator yang baik bagi pertumbuhan bahasa permulaan dan memang banyak ahli riset yang memanfaatkan tahap-tahap Brown tersebut. Akan tetapi, setelah PUR 4,0, panjang ucapan tidak begitu menolong lagi bagi pengukuran pertumbuhan bahasa karena tidak lagi mencerminkan kerumitan apa yang diketahui anak-anak, system memudahkan mereka menghasilkan bentuk-bentuk dihilangkan. Jadi, kesinambungan dalam makna anak-anak dan ujaran satu kata menjadi ujaran kombinasi justru sama pentingnya dengan perubahan dalam cara anak-anak mengekspresikan makna-makna mereka

2.    Perkembangan Ujaran Kombinatori
Pembicaraan menegenai perkembangan ujaran kombinasia anak-anak ini dibagi beberapa bagian, yaitu: perkembangan negative (penyangkalan); perkembangan interogatif (pertanyaan); perkembangan penggabungan kalimat; dan perkembangan system bunyi.
a.    Perkembangan Negatif
Apabila kita menggunakan “negatif”, kalau kita menggunakan “tidak”, jelas kita ingin mengatakan berbagai hal.
Contoh:
     Ya, saya tidak punya uang
     Tidak, saya tidak mau itu
Paling tidak, pengertian kita tentang negatif mencakup “noneksistensi”, “penolakan”, dan “penyangkalan”, seperti pada kalimat-kalimat di atas itu. Berikut ini, contoh pengertian negatif.
NONEKSISTENSI : Tidak ada bantal
                                   Tidak ada uang
                                   Tidak ada sepatu
PENOLAKAN         : Tidak mau
                                   Tidak suka
                                   Tidak minum susu
PENYANGKALAN : Bukan merah (tetapi putih)
                                    Bukan ibu (tetapi nenek)
b.    Perkembangan Interogatif
Pada umumnya, “pertanyaan”itu menurut informasi, menagih keterangan. Ada tiga tips struktur interogatif yang utama untuk mengemukakan pertanyaan, yaitu:
1.    Pertanyaan yang menuntut jawaban YA atau TIDAK;
2.    Pertanyaan yang menuntut INFORMASI.
3.    Pertanyaan yang menuntut jawab SALAH SATU DARI YANG BERLAWANAN.

c.    Perkembangan Penggabungan Kalimat
Sarana-sarana/cara-cara pengembangan penggabungan kalimat sang anak memperlihatkan gerakan melalui beberapa dimensi, yaitu: dari penggabungan dua klausa setara menuju penggabungan dua klausa yang tidak setara; dari klausa-klausa utama yang tidak tersela menuju penggunaan klausa-klausa yang tersela; dari susunan klausa yang memuat kejadian tetap menuju susunan klausa yang bervariasi; dan dari penggunaan perangkat-perangkat semantic-sintaksis yang kecil menuju perangkat-perangkat yang lebih diperluas.
d.    Perkembangan Sistem Bunyi
Keterampilan berucap atau mengucapkan kata-kata menjadi semakin terkontrol dan diperbaiki dengan pemakaian dalam praktik. Perkembangan komponen ini memang lebih bersifat fisik, dan seperti halnya dalam perkembangan kemampuan-kemampuan fisik lainnya, praktik dan pelatihan sungguh membantu membawa keterampilan itu dibawah pengawasan.
2.1.1     MEKANISME UMUM BAGI PEMEROLEHAN BAHASA
Menurut Jean A. Rondal (dalam, Tarigan 2011: 42), berdasarkan data-data yang dia pergunakan, agaknya dapat disarankan adanya suatu mekanisme-makro-umum bagi pemeroleh bahasa (pertama) pada diri sang anak. Pakar ini mengemukakan sangat besar sekali kemungkinan bahwa bagian terbesar dari proses pemerolehan bahasa mengambil tempat pada konteks umum interaksi timbale balik dengan para pembicara lebih dewasa.
          Pengetahuan orang tua mengenai perkembangan bahasa anak pada umumnya dan mengenai tuturan anak mereka pada khususnya, harapan-harapan mereka berkenan dengan perkembangan bahasa pada anak mereka, dan produk dari analisis mereka mengenai aneka produksi verbal dan aneka reaksi reseptif sebagian besar menentukan cirri-ciri formal ujaran yang mereka sajikan kepada sang anak, khususnya tingkat penyesuaian atau adaptasi tempat ujaran itu berlangsung.
          Ujaran orang dewasa yang diekspresikan dalam konteks ekstra linguistic tertentu dengan iringan paraverbal tertentu memberi masukan kepada sang anak dalam komunikasi lingistik.

2.1.2     KERANGKA BAGI TEORI PEMEROLEHAN BAHASA
Berbicara mengenai kerangka teori pemerolehan bahasa, kita sebenarnya membicarakan salah satu fundamen teori keterpelajaran. Dengan teori pemerolehan bahasa, kita ingin mengetahui serta mengetengahkan teori yang memudahkan anak-anak belajar bahasa. Keluaran belajar bahasa merupakan suatu kaidah bagi bahasa orang dewasa. Sistem kaidah atau tata bahasa ini terdiri atas kaidah-kaidah, aturan-aturan, prinsip-prinsip, dan ketetapan parameter yang terendap dalam kosakata formal, termasuk kategori-kategori sintaksis (nomina,verba,dll), relasi-relasi gramatikal serta kasus (subjek, objek, nominative, okusuatif, dsb.), dan bentuk-bentuk struktur frasa. Jadi, pemerolehan bahasa terdiri atas penyelesaian sang anak terhadap susunan kesatuan lahiriah dalam masukan untuk menentukan kombinasi-kombinasi yang mana saja di antaranya yang dibolehkan atau diizinkan oleh bahasa.

2.1.3     SALAH PENGERTIAN MENGENAI PEMEROLEHAN BAHASA
Banyak pakar mengungkapkan pendapat nya mengenai pemerolehan bahasa, sehingga sering terjadi salah paham mengenai pemerolehan bahasa ini. Tidak dapat disangkal bahwa terdapat kepercayaan dan keyakinan yang telah tersebar luas mengenai kepercayaan yang telah tersebar luas mengenai pemerolehan bahasa anak-anak, terutama PB2, yang belum dibuktikan kebenarannya.
          Upaya secara sistematis untuk mengenali sumber-sumber kesalahan dalam ujaran atau tuturan para pelajar bahasa kedua mengungkapkan bahwa relatif sangat sedikit kesalahan yang dibuat oleh para pelajar bahasa kedua dapat dikaitkan dengan interferensi dari bahasa pertama mereka. Pada umumnya, tidak lebih dari sepertiga jumlah kesalahan dalam korpus ujaran dapat dikenali sebagai yang ada hubungannya dengan gangguan struktur-struktur bahasa pertama. Mayoritas kesalahan yang dibuat oleh para pelajar bahasa kedua merupakan akibat dari penggeneralisasian dan salah menerapkan kaidah-kaidah bahasa kedua sebelum mereka menguasainya dengan baik, dalam morfologi dan sintaksis. Beberapa kesalahan memang unik yang seakan-akan tidak mencerminkan faktor-faktor perkembangan atau struktur bahasa pertama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar