Selasa, 08 Oktober 2013

PENGERTIAN, RAGAM, DAN SIASAT PEMEROLEHAN BAHASA



2.1 Pengertian pemerolehan bahasa
            Ada dua pengertian mengenai pemerolehan bahasa. Pertama, pemerolehan bahasa mempunyai permulaan yang mendadak, tiba-tiba. Kedua, pemerolehan bahasa memiliki suatu permulaan yang gradual yang muncul dari prestasi-prestasi motorik, sosial, dan kognitif pralinguistik.
Penelitian mengenai bahasa manusia telah menunjukkan banyak hal mengenai pemerolehan bahasa, mengenai apa yang dilakukan atau tidak dilakukan seorang anak ketika belajar atau memperoleh bahasa (Fromkin dan Rodman, 1998:318 (dalam, http://laillail.blogspot.com)).
1.    Anak tidak belajar bahasa dengan cara menyimpan semua kata dan kalimat dalam sebuah kamus mental raksasa. Daftar kata-kata itu terbatas, tetapi tidak ada kamus yang bisa mencakup semua kalimat yang tidak terbatas jumlahnya.
2.    Anak-anak dapat belajar menyusun kalimat, kebanyakan berupa kalimat yang belum pernah mereka hasilkan sebelumnya. Anak-anak belajar memahami kalimat yang belum pernah mereka dengar sebelumnya. Mereka tidak dapat melakukannya dengan menyesuaikan tuturan yang didengar dengan beberapa kalimat yang ada dalam pikiran mereka. Anak-anak selanjutnya harus menyusun “aturan” yang membuat mereka dapat menggunakan bahasa secara kreatif. Tidak ada yang mengajarkan aturan ini. Orang tua tidak lebih menyadari aturan fonologis, morfologis, sintaksis, dan semantik dari pada anak-anak. Selain memperoleh aturan tata bahasa (memperoleh kompetensi linguistik), anak-anak juga belajar pragmatik, yaitu penggunaan bahasa secara sosial dengan tepat, atau disebut para ahli dengan kemampuan komunikatif. Aturan-aturan ini termasuk mengucap salam, kata-kata tabu, bentuk panggilan yang sopan, dan berbagai ragam yang sesuai untuk situasi yang berbeda. Ini dikarenakan sejak dilahirkan, manusia terlibat dalam dunia sosial sehingga ia harus berhubungan dengan manusia lainnya. Ini artinya manusia harus menguasai norma-norma sosial dan budaya yang berlaku dalam masyarakat. Sebagian dari noraia ini tertanam dalam bahasa sehingga kompetensi seseorang tidak terbatas pada apa yang disebut pemakaian bahasa (language usage) tetapi juga penggunaan bahasa (language use) (Dardjowidjojo, 2000:275(dalam, http://laillail.blogspot.com)).
3.    .Pemerolehan bahasa pertama erat sekali kaitannya dengan perkembangan sosial anak dan karenanya juga erat hubungannya dengan pembentukan identitas sosial. Mempelajari bahasa pertama merupakan salah satu perkembangan menyeluruh anak menjadi anggota penuh suatu masyarakat. Bahasa memudahkan anak mengekspresikan gagasan, kemauannya dengan cara yang benar-benar dapat diterima secara sosial. Bahasa merupakan media yang dapat digunakan anak untuk memperoleh nilai-nilai budaya, moral, agama, dan nilai-nilai lain dalam masyarakat. Dalam melangsungkan upaya memperoleh bahasa, anak dibimbing oleh prinsip atau falsafah ‘jadilah orang lain dengan sedikit perbedaan’, ataupun ‘dapatkan atau perolehlah suatu identitas sosial dan di dalamnya, dan kembangkan identitas pribadi Anda sendiri.
Dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI), pemerolehan bermakna proses, cara, perbuatan memperoleh. Kata memperoleh tersebut di dalam KBBI bermakna mencapai sesuatu dengan usaha. Dengan demikian maka pemerolehan bermakna proses, cara, perbuatan mencapai sesuatu dengan usaha.
            Pemerolehan bahasa adalah proses manusia mendapatkan kemampuan untuk menangkap, menghasilkan, dan menggunakan kata untuk pemahaman dan komunikasi. Pemerolehan bahasa biasanya merujuk pada pemerolehan bahasa pertama yang mengkaji pemerolehan anak terhadap bahasa ibu mereka dan bukan pemerolehan bahasa kedua yang mengkaji pemerolehan bahasa tambahan oleh anak-anak atau orang dewasa. (http://laillail.blogspot.com)
            Jadi, pemerolehan bahasa merupakan proses manusia mendapat kemampuan untuk menangkap, menghasilkan, dan menggunakan kata untuk pemahaman komunikasi berkenan dengan bahasa pertama.

2.2 Ragam pemerolehan bahasa

Ragam pemerolehan bahasa dapat ditinjau dari berbagi sudut pandangan, sebagai berikut:

a.
Berdasarkan bentuk:
   1. Pemerolehan bahasa pertama
   2. Perolehan bahasa kedua
   3.Pemerolehan bahasa ulang (Klein, 1986:3 (dalam,   http://thottoloversable.blogspot.com)).
b. Berdasarkan urutan:
1. Pemerolehan bahasa pertama
2. Pemerolehan bahasa kedua (Winits, 1981; Stevens, 1984 (dalam, http://thottoloversable.blogspot.com)).


c.
Berdasarkan jumlah:
1.    Pemerolehan satu bahasa
2.    Pemerolehan dua bahasa
(Gracia,1983 (dalam, http://thottoloversable.blogspot.com)).

d.
Berdasarkan media:
1.    Pemerolehan bahasa lisan
2.    Pemerolehan bahasa tulis
(Freedman, 1985 (dalam, http://thottoloversable.blogspot.com)).

e.
Berdasarkan keaslian:
1.    Pemerolehan bahasa asli
2.    Pemerolehan bahasa asing
(Winits, 1981 (dalam, http://thottoloversable.blogspot.com)).

2.3 Siasat Pemerolehan Bahasa
Berbicara mengenai pemerolehan bahasa, pertanyaan penting yang muncul, yaitu: mengenai bagaimanakah caranya seorang anak memeroleh bahasanya? Landasan atau dasar kognitif terlihat dalam tiga hal :
(a)    Perkembangan semantic sang anak
(b)   Perkembangan sintaksis permulaan
(c)    Penggunaan aktif sang anak aka sejenis siasat belajar.
(Lindfors ; 1987 :163 (dalam, http://thottoloversable.blogspot.com)).


Berikut ini kita terakan beberapa cara belajar, bebrapa cara membangun secara kreatif.
(a)   Gunakan pemahaman non-linguistik anda sebagai dasar bagi penetapan atau pemikiran bahasa.
(b)   Gunakan apa saja ata segala sesuatu yang penting, yang menonjol dan menarik hati anda.
(c)     Anggaplah bahwa bahasa  dipakai secara “referensial”atau “ekspresif” dan dengan menggunakan data bahasa.
(d)    Amatilah berbagai caranya orang lain mengekspresikan makna.
(e)   Ajukanlah pertanyaan-pertanyaan untuk memancing atau memperoleh data  yang anda inginkan.
(f)     Tirulah apa yang dikatakan orang lain.
(g)  Gunakan beberapa “prinsip operasi” umum buat memikirkan serta menetapkan bahasa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar