Selasa, 08 Oktober 2013

SUBJEK DAN SASARAN EVALUASI SERTA PRINSIP ALAT EVALUASI





BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Pembelajaran adalah suatu proses perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya interaksi anatara individu dan individu dengan lingkungannya agar dapat tercapainya tujuan pendidikan. Untuk dapat menentukan tercapai tidaknya tujuan pendidikan dan pengajaran perlu dilakukan usaha atau tindakan penilaian atau evaluasi. Penilaian atau evaluasi pada dasarnya memberikan pertimbangan atau harga atau nilai berdasarkan kreteria tertentu.
Hasil yang diperoleh dari penilaian dinyatakan dalam bentuk hasil belajar. Oleh karena itu tindakan atau kegiatan tersebut dinamakan penilaian hasil belajar. Jika seorang guru merasa bertanggung jawab atas penyempurnaan pengajarannya, maka ia harus mengevaluasi pengajarannya itu agar ia mengetahui perubahan apa yang seharusnya diadakan. Tidak hanya guru yang dilakukan evaluasi, Siswa juga harus dievaluasi. subjek evaluasi pada kegiatan evaluasi pengajaran bahasa Indonesia adalah guru. Sedangkan, subjeknya yaitu siswa sebagai sasaran evaluasi. Di dalam melakukan evaluasi, alat evaluasi yang digunakan berupa berbagai macam teknik atau cara, mulai dari teknik nontes sampai menggunakan teknik tes.
Berdasarkan hal tersebut diatas maka disusunlah makalah berjudul “Subjek dan Sasaran Evaluasi Serta Prinsip Alat Evaluasi”.
1.2. Rumusan Masalah
1.      Siapa yang menjadi subjek, objek dan sasaran evaluasi?
2.      Apa prinsip dalam evaluasi?
3.      Apa alat dalam evaluasi?




BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Subjek Dan Sasaran Evaluasi Serta Prinsip Alat Evaluasi
2.1.1 Subjek Evaluasi
Subjek evaluasi adalah orang yang melakukan penilaian. Siapa yang dapat disebut sebagai subjek evaluasi untuk setiap tes, ditentukan oleh suatu aturan pembagian tugas (Arikunto,2002: 19).
Contoh :
1.      Untuk melaksanakan evaluasi mengenai pencapaian suatu prestasi belajar siswa, maka yang menjadi subjek evaluasi adalah guru.
2.      Untuk melaksanakan evaluasi sikap yang menggunakan sebuah skala, maka yang menjadi subjeknya dapat meminta petugas yang ditunjuk dengan didahului oleh suatu latihan untuk melaksankan evaluasi tersebut.
3.      Untuk melaksankan evaluasi terhadap kepribadian, dimana menggunakan sebuah alat ukur yang sudah yang sudah dibuat standarisasi, maka yang menjadi subjeknya adalah ahli psikologi.
Dalam keterangan ini, dapat dikatagorikan bahwa pelaksanaan evaluasi sebagai subjek evaluasi. Namun, ada pandangan lain menyatakan bahwa yang menjadi subjek evaluasi adalah siswa, yakni orang yang di evaluasi. Karena, adanya pandangan unsur yang menjadi objeknya, misalnya prestasi belajar, kemampuan membaca, menulis, dan lain sebagainya. Pandangan lain juga mengklasifikasikan bahwa siswa sebagai objek evaluasinya dan guru sebagai subjeknya.
2.1.2 Objek Evaluasi
Objek yang dimaksud dapat dikatakan sebagai pusat perhatian untuk di evaluasi. Yang menentukan evaluasi atau disebut dengan evaluator itulah yang disebut dengan objek evaluasi. Misalnya, pada waktu evaluator ingin menilai tinggi badan siswa, maka yang menjadi objek evaluasi adalah tinggi badan siswa, sedangkan angka yang menunjukan berapa tinggi badan siswa misalnya 167cm,156cm, atau yang lain adalah hasil evaluasi. Jika evaluator ingin menilai keterampilan siswa dalam termometer, maka yang menjadi objek evaluasi adalah benar atau tidaknya gerakan tangan siswa ketika memegang alat. Bagaimana siswa meletakkan termometer dibadan anak yan diukur suhunya, kemampuan siswa untuk menentukan berapa lama termometer diletakkan dibagian badan, kemudian juga kemampuan siswa dalam membaca skala pada termometer. Lalu, gambaran tentang benar atau salahnya siswa tentang menggunakan termometer adalah hasil dari evaluasi.
2.1.3 Sasaran Evaluasi
Sasaran evaluasi yang dimaksud ialah segala sesuatu yang menjadi titik pusat pengamatan karena penilaian menginginkan informasi tentang sesuatu tersebut.
 Dengan menggunakan diagram tentang transformasi maka sasaran penilaian untuk unsur-unsurnya meliputi : input transformasi dan output (keluaran).
a.         Input
Untuk mengetahui pribadi seorang siswa yang utuh, dapat dilakukan macam-macam bentuk tes sebagai alat untuk mengukur. Aspek yang bersifat rohani setidaknya mencakup empat hal :
1.    Kemampuan
Seorang siswa yang akan mengikuti program dalam memasuki sekolah, guru akan melihat kemampuan siswa. Alat ukur yang digunakan untuk mengukur kemampuan ini desebut tes kemampuan atau attietude test.


2.    Kepribadian
Kepribadian adalah sesuatu yang biasa terdapat disetiap diri manusia dengan menampakan kepribadian itu dari sikap tingkah laku yang dimiliki manusia. Alat untuk mengetahui kepribadian itu disebut tes kepribadian atau personality test.
3.    Sikap-sikap
Sikap juga termasuk kedalam bagian dari tingkah laku yang dimiliki manusia, namun ada hal yang lebih menonjol dari sikap dan sangat dibutuhkan dalam sebuah pergaulan agar dapat mendapatkan informasi dari pergaulannya. Alat yang dapat mengetahui keadaan sikap sering dinamakan tes sikap atau attitude test.
4.    Intelegensi
Tes intelegensi atau sering dikenal dengan intelligence anetient. Namun, sebenarnya IQ itu bukan lah intelegensi. IQ berbeda dengan intelegensi karena IQ hanyalah angka yang memberi petunjuk mengenai tinggi rendahnya intelegensi seseorang. Dengan pengertian ini maka kurang benarlah jika ada orang mengatakan “IQ JONGKOK” karena IQ hanyalah berupa angka. Mestinya Iq rendah diartikan bahwa angkanya rendah.
b.         Transformasi
Unsur yang terdapat dalam transformsi semuanya dapat menjadi sasaran atau objek penilaian demi diperolehnya hasil pendidikan yang diharapkan. Untuk transformasi yang menjadi objek penilaian antara lain:
1.    Kurikulum/materi
2.    Metode dan cara penilaian
3.    Sarana pendidikan/media
4.    Sistem administrasi
5.    Guru dan personal lainya



c.         Output
Penilaian terhadap lulusan suatu sekolah dikurikulum untuk mengetahui seberapa jauh tingkat pencapaian/prestasi belajar mereka selama mengikuti progam. Alat yang digunakan untuk mengukur pencapaian ini disebut tes pencapaian atau achieviment test.
Kecendrungan yang ada sampai saat ini adalah bahwa guru hanya menilai prestasi belajar aspek kognitif atau kecerdasan saja. Alatnya adalah tes tertulis. Aspek psikomotorik, apalagi afektif sangat jarang diterapkan oleh guru. Akaibatnya, dapat kita buktikan yakni bahwa para lulusan hanya mengetahui teori tetapi tidak terampil melakukan keterampilan, juga tidak mampu mengaplikasikan pengetahuan yang sudah mereka ketahui. Lemahnya pembelajaran dan evaluasi terhadap aspek afektif ini, jika kita mau introfeksi, telah berakibat merosotnya akhlak para lulusan, yang selanjutnya berdampak luas pada merosotnya anak bangsa.
2.1.4. Penggunaan Data Evaluasi
            Secara umum kegunaan data evaluasi adalah sebagai dasar untuk mengambil keputusan, sedangkan secara khusus data evaluasi berguna untuk administratif, instruksional, bimbingan dan penyuluhan, serta penyelidikan. Secara umum, kegunaan data evaluasi adalah sebagai dasar untuk mengambil sebuah keputusan dan secara khusus dapat dirinci sebagai berikut:
1. Administratif
Administrator menggunakan hasil evaluasi untuk pengelompokkan kelas, melengkapi laporan-laporan untuk wali murid, memberikan informasi untuk menempatkan siswa jika dia pindah sekolah, dan melengkapi laporan kemajuan sekolah kepada instansi yang lebih tinggi.
2. Instruksional
    Supervisor dan guru menggunakan hasil evaluasi untuk membantu meningkatkan cara mengajar guru agar lebih baik.
3. Bimbingan dan penyuluhan
Hasil yang diperoleh dari berbagai teknik evaluasi seperti tes intelegensi, achievement test, attitude test, catatan observasi, catatan harian, interest inventories, dan catatan kumulatif dapat digunakan.
4. Penyelidikan
Hasil yang diperoleh digunakan untuk menyelidiki apakah ada ketidaksesuaian atau ketidakberesan dalam program, baik dari segi siswa, guru, kurikulum, ataupun lainnya.

2.1.5 Program Evaluasi
            Program adalah suatu rencana yang melibatkan berbagai unit yang berisi kebijakan dan rangkaian kegiatan yang harus dilakukan dalam kurun waktu tertentu. Sedangkan, evaluasi adalah kegiatan untuk mengumpulkan informasi tentang bekerjanya sesuatu, yang selanjutnya informasi tersebut digunakan untuk menentukan alternatif yang tepat dalam mengambil keputusan. Jadi, evaluasi program adalah suatu unit atau kesatuan kegiatan yang bertujuan mengumpulkan informasi tentang realisasi atau implementasi dari suatu kebijakan. Berlangsung dalam proses yang berkesinambungan dan terjadi dalam suatu organisasi yang melibatkan sekelompok orang guna mengambil keputusan. (Arikunto (http://anan-nur.blogspot.com).
2.1.6 Prinsip Evaluasi
Ada satu prinsip umum yang penting dalam kegiatan evaluasi, yaitu adanya triangulasi atau hubungan tiga komponen, yaitu :
a.       Tujuan pembelajaran
b.      Kegiatan pembelajaran
c.       Evaluasi, (Arikunto, 2002: 24).
Dan dapat digambarkan seperti ini :

Tujuan

KBM                                                  evaluasi
Penjelasan dari bagan di atas yaitu :
a.        Hubungan antara tujuan dengan KBM
Kegiatan belajar mengajar disusun oleh guru dengan mengacu pada tujuan yang hendak dicapai. Makna bagan diatas bahwa KBM mengacu pada tujuan, tetapi juga mengarah dari tujuan ke KBM.
b.        Hubungan antara tujuan dengan evaluasi
Evaluasi adalah kegiatan mengumpulkan data untuk mengukur sejauh mana tujuan sudah dicapai (Arikunto,2002: 25). Dengan makna demikian, maka anak panah yang ada di evaluasi dapat menunjuk kearah tujuan. Sehingga dalam menyusun alat evaluasi akan mengarah pada tujuan yang telah dirumuskan.
c.         Hubungan antara KBM dengan evaluasi
KBM dirancang dengan mengacu pada tujuan yang dirumuskan, sedangkan alat evaluasi juga disusun dengan mengacu pada tujuan. Namun, evaluasi juga harus disesuaikan dengan KBM yang dilaksanakan, karena kegiatan belajar mengajar yang dilakukan oleh guru akan menitik beratkan pada sebuah keterampilan. Sedangkan, evaluasi sendiri juga harus mengukur tingkat keterampilan siswa, bukan pada pengetahuan. Namun, masalah masalah yang dihadapi sekarang ini, praktek sekarang dilakukan dengan tes tertulis, yang menekankan pada pengetahuan saja/kognitif. Sehingga pada aspek lain kurang mendapat perhatian dalam evaluasi.
2.1.7 Alat dalalam Evaluasi
Alat evaluasi adalah suatu yang digunakan untuk melaksanakan tugas dalam mencapai tujuan yang lebih efektif dan efisien.

Contoh  :
Jika yang dievaluasi suatu keterampilan siswa dalam membaca, maka hasil evaluasinya berupa gambaran tentang tingkat keterampilan siswa dalam membaca.
Ada beberapa cara atau teknik yang digunakan evaluator dengan teknik evaluasi, yaitu teknis nontes dan teknik tes (Arikunto, 2002: 26).
a.    Teknik nontes
1.    Skala bertingkat (rating scale)
Yaitu meletakkan secara bertingkat angka yang rendah ke yang tinggi.
Contoh :
Skor yang dibeikan oleh guru disekolahuntuk menggambarkan tingkat hasil belajar siswa. Siswa yang mendapat skot 8 digambarkan dikanan dibanding dengan skor 5.

                            I            I          I         I          I
                           4            5          6         7         8

2.    Koesioner ( questionair )
Kuesioner adalah sebuah daftar pertanyaan yang harus diisi oleh orang yang akan diukur (responden).
  Kuesioner dibagai menjadi 2 yaitu:
1.    Koesioner langsung
Yaitu jika kuesioner tersebut dikirim atau diisi langsung oleh orang yang diminta jawaban tentang dirinya.
2.    Koesioner tak langsung
Yaitu koesioner yang dikirim dan diisi bukan oleh orang yang dimintai keterangan. Biasanya digunakan untuk mencari informasi tentang bawahan, tetangga, dan sebagainya.


3.    Daftar cocok (check list)
Yaitu deretan pernyataan (yang biasanya singkat-singkat) dimana responden yang dievaluasi tinggal membubuhkan tanda cocok (√) ditempat yang sudah disediakan.
4.    Wawancara (interview)
Yaitu suatu metode atau cara yang digunakan untuk mendapatkan jawaban dari responden dengan jalan tanya jawab sepihak. Dikatakan sepihak karena responden tidak diberikan kesempatan untuk bertanya, karena pertanyaan hanya dilakukan oleh subjek evaluasi.
5.    Pengamatan (observation)
Yaitu suatu teknik yang dilakukan dengan cara mengadakan pengamatan secara teliti serta pencatatan secara sistematis.
b.      Teknik tes
Tes adalah suatu alat atau prosedur yang sistematis dan objektif untuk memperoleh dara-data atau keterangan-keterangan yang dinginkan tentang seseorang, dengan cara yang boleh dikatakan cepat dan tepat (Pendapat Indrakusuma dalam, Arikunto, 2002: 32).
Tes ialah suatu percobaan yang dadakan untuk mengetahui ada atau tidaknya hasil-hasil pelajaran tertentu pada seorang murid atau kelompok murid ( Pendapat Bukhori dalam, Arikunto, 2013: 46).
Dari pengertian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan atau alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan, intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok.
Tes dibedakan atas 3 macam berdasarkan kegunaan untuk mengukur siswa :
1.    Tes diagnostik
Tes diagnostik adalah tes yang digunakan untuk mengetahui kelemahan-kelemahan siswa sehingga dapat diberikan pemberian perlakuan yang tepat.

2.    Tes formatif
Tes formatif adalah dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana siswa telah terbentuk setelah mengikuti suatu program tertentu.
3.    Tes sumatif
Dalam pengalaman disekolah tes formatif dapat disamakan dengan ulangan harian, sedangkan tes sumatif dapat disamakan dengan ulangan umum yang biasanya dilaksanakan tiap akhir semester.
2.1.8 Penilaian dalam Evaluasi
Penilaian merupakan suatu proses untuk menentukan perubahan tingkah laku dan membuat pertimbangan menilai. Dengan demikian, penilaian merujuk pada proses memberi nilai yang bercorak kualitatif tentang suatu kemahiran bahasa berdasarkan pencapaian hasil dan pada pengukuran yang telah dilakukan secara kualitatif.
Contohnya :
lusi mendapat tanda 90% dalam kemahiran berbahasa, dinilai sebagai mencapai tehap cemerlang dan yeni mendapat tanda 10% dinilai sebagai tahap yag sangat lemah. Jadi, perkataan cemerlang, baik, sederhana, lemah atau sangat lemah yang digunakan dalam konteks ini adalah istilah penilaian yang diberikan secara kualitatif yang berasaskan pengukuran dan tanda yang diperoleh dalam bentuk kuantitatif.
Dari penilaian itu boleh dilakukan dengan menggunakan data yang berbentuk kualitatif/kuantitatif. Data kuantitatif data yang dibuat dalam bentuk angka yang boleh dikumpul, serta disusun dan diringkas hingga menjadi sebuah penilaian. Sedangkan, data kualitatif dinyatakan dalam bentuk penjelasan, yang menjelaskan perubahan tingkah laku yang dapat di lihat secara nyata. Seperti contoh yang disebutkan tadi, bahwa Lusi telah menunjukkan kemajuan yang amat lebih baik atau cemerlang dalam kemahiran bahasa.
BAB III
KESIMPULAN
Evaluasi adalah proses untuk mengetahui ketercapaian sebuah tujuan, salah satu cara menuju perbaikan, kegiatan yang biasa dilakukan guru di sekolah, proses untuk mengukur dan menilai sebuah kegiatan berdasarkan parameter tertentu, atau kegiatan mengambil keputusan tentang keberlangsungan sebuah program.
Dari pembahahasan yang telah kami diskusikan tentang subjek dan sasaran evaluasi serta prisip alat evaluasi, dapat ditarik kesimpulan bahwa subjek evaluasi pada kegiatan evaluasi pengajaran bahasa Indonesia adalah guru. Sedangkan, subjeknya yaitu siswa sebagai sasaran evaluasi. Di dalam melakukan evaluasi, alat evaluasi yang digunakan berupa berbagai macam teknik atau cara, mulai dari teknik nontes sampai menggunakan teknik tes.


 
DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharimi. 2002. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan (edisi revisi). Jakarta: Bumi Aksara.
Arikunto, Suharimi. 2013. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan edisi 2. Jakarta: Bumi Aksara.
Anan. Evaluasi Program Pendidikan, (online), (http://anan-nur.blogspot.com, diakses 14 januari 2012).

Wiwit. Fungsi dan Kegunaan Evaluasi Pendidikan (http://w3i3t2a.blogspot.com, diakses Sabtu, 01 Oktober 2011).




Tidak ada komentar:

Posting Komentar