Rabu, 28 Mei 2014

SEMANTIK



PENGERTIAN, JENIS, MANFAAT, DAN RUANG LINGKUP SEMANTIK

1.        PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang
Kearbiteran lambang bahasa menyebabkan orang, dalam sejarah linguistik, agak menelantarkan penelitian mengenai makna bila dibandingkan dengan penelitian di bidang morfologi dan sintaksis. Makna dalam objek studi semantik, sangat tidak jelas strukturnya. Berbeda dengan morfologi dan sintaksis yang struktunya jelas sehingga mudah dianalisis.
Namun sejak tahun empat puluhan studi mengenai makna ini menjadi kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dari studi linguistik lainnya. Mengapa? Karena orang mulai menyadari bahwa kegiatan berbahasa sesungguhnya adalah kegiatan mengekspresikan lambang-lambang bahasa tersebut, kepada lawan bicaranya (dalam komunikasi tulis). Jadi, pengetahuan akan adanya hubungan antara lambang atau satuan bahasa, dengan maknanya sangat diperlukan dalam berkomunikasi dengan bahasa itu.
Dalam makalah ini penulis coba menjelaskan mengenai apa itu pengertian semantik, bagaimana jenis semantik, apa saja manfaat semantik dan bagaimana ruang lingkup semantik.

2.        PEMBAHASAN

2.1    Pengertian Semantik
Ada dua cabang utama linguistik yang khusus menyangkut kata yaitu etimologi, studi tentang asal usul kata, dan semantik atau ilmu makna, studi tentang makna kata. Diantara dua ilmu itu etimologi sudah merupakan disiplin ilmu yang mapan, sedangkan semantik relatif merupakan hal baru (Ullmann, 2007: 1).
Istilah semantik baru muncul pada tahun 1894 yang dikenal melalui American philological Association (Organisasi Filologi Amerika). Istilah semantik sudah ada sejak abad ke 17 melalui frase semantics philosophy. Kata semantik berasal dari bahasa Indonesia dan dari bahasa Yunani sema (kata benda yang berarti “tanda”atau “lambang”). Kata kerjanya adalah semaino yang berarti “menandai” atau “melambangkan”. Yang dimaksud dengan kata atau lambang di sini sebagai kata sema adalah tanda linguistik yang terdiri dari 2 komponen.
1.      Komponen yang berwujud bentuk-bentuk bunyi bahasa.
2.      Komponen yang diartikan atau makna dari komponen yang pertama.
Dari kedua komponen ini merupakan tanda atau lambang, sedangkan yang ditandai atau dilambanginya adalah sesuatu yang berada di luar bahasa yang lazim disebut referen.
Studi semantik lazim diartikan sebagai bidang dalam linguistik yang meneliti atau membicarakan, atau mengambil makna bahasa sebagai objek kajiannya (Chaer, 2007: 115).
Kata semantik yang digunakan untuk bidang linguistik yang mempelajari hubungan antara tanda-tanda linguistik dengan hal-hal yang di tandainya atau dengan kata lain bidang studi yang mempelajari makna atau arti dalam bahasa. Oleh karena itu kata semantik dapat diartikan sebagai ilmu tentang makna atau arti (Chaer, 2009: 2).
Menurut Tarigan (2011: 147) semantik adalah telaah makna. Semantik menelaah lambang-lambang atau tanda-tanda yang menyatakan makna, hubungan makna yang satu dengan yang lain, dan pengaruhnya terhadap manusia serta masyarakat.
Sedangkan menurut Korzybski seperti yang dikutip Parera (2004: 18), semantik ialah studi tentang kemampuan manusia untuk menyimpan pengalaman dan pengetahuan lewat fungsi bahasa sebagai penghubung waktu, bahasa mengikat waktu, dan bahasa mengikat umur manusia bersama.
Semantik mengandung pengertian “studi tentang makna”. Dengan anggapan bahwa makna menjadi bagian dari bahasa, maka semantik  merupakan bagian dari linguistik, seperti halnya bunyi dan tata bahasa, komponen makna dalam ini juga menduduki tingkatan tertentu. Apabila komponen bunyi umumnya menduduki tingkatan pertama, tata bahasa pada tingkatan kedua, maka komponen makna menduduki tingkatan paling akhir. Hubungan ketiga komponen itu sesuai dengan kenyataan bahwa.
1.      Bahasa pada awalnya merupakan bunyi-bunyi abstrak yang mengacu pada lambang-lambang tertentu.
2.      Lambang-lambang merupakan seperangkat sistem yang memiliki tataan dan hubungan.
3.      Seperangkat lambang yang memiliki bentuk dan hubungan itu mengasosiasikan adanya makna tertentu (Aminuddin, 2001: 15).                                                                                                             

Semantik ada pada ketiga tataran bahasa (fonologi, morfologi, sintaksis, dan leksikon). Morfologi dan sintaksis termasuk ke dalam gramatika atau tata bahasa.(Fatimah, 2009: 1)
Dengan tataran analisis bahasa lainnya, semantik merupakan cabang linguistik yang mempunyai hubungan erat dengan ilmu-ilmu sosial lain seperti sosiologi dan antropologi bahkan juga dengan filsafat dan psikologi. Dalam analisis semantik harus juga disadari karena bahasa itu bersifat unik, dan mempunyai dan mempunyai hubungan yang sangat erat dengan budaya masyarakat dalam pemakaiannya maka analisis semantik suatu bahasa hanya berlaku untuk bahasa itu saja, tidak dapat digunakan untuk menganalisis bahasa lain.
Kesulitan lain dalam menganalisis makna adalah adanya kenyataan bahwa tidak selalu “yang menandai “ dan “yang ditantai” berhubungan satu lawan satu, artinya, setiap tanda linguistik hanya memiliki satu makna. Contohnya “Becak – ‘kendaraan umum tak bermotor beroda tiga’ Adakalanya hubungan itu berlaku sebagai satu lawan dua atau lebih, bisa juga sebagai dua atau lebih lawan satu. Contohnya “buku kitab” sama dengan “lembaran kertas bejilid”
Selain itu juga dalam bahasa yang penuturnya terdiri dari kelompok yang mewakili latar belakang budaya, pandangan hidup, dan status sosial yang berbeda, maka makna sebuah kata bisa menjadi berbeda atau memiliki nuansa makna yang berlainan.
Contoh kata babi dalam masyarakat Indonesia yang mayoritas islam memiliki makna yang berkonotasi negatif tetapi dalam masyarakat Indonesia yang nonislam memiliki konotasi makna yang netral atau berkonotasi positif.
Ada 4 syarat yang harus dipenuhi untuk mendeskripsikan semantik. Keempat syarat itu ialah (Pateda, 2010: 18).
1.    Teori itu harus dapat meramalkan makna setiap kesatuan yang muncul didasarkan pada satuan leksikal yang membentuk kalimat.
2.    Teori itu harus merupakan seperangkat kaidah.
3.    Teori itu harus dapat membedakan kalimat yang secara gramatikal benar dan yang tidak dilihat dari segi semantik.
4.    Teori tersebut dapat meramalkan makna yang berhubungan dengan antonim, kontradiksi, dan sinomim.

2.2    Jenis Semantik
Sudah di sebutkan bahwa yang menjadi objek studi semantik adalah makna bahasa. Lebih tepat lagi, makna dari satuan-satuan bahasa seperti kata, frase, klausa, kalimat, dan wacana. Kalau bahasa memiliki tataran-tataran analisis, yaitu fonologi, morfologi, dan sintaksis maka bagian-bagian mana dari tataran analisis itu yang mengandung masalah semantik, atau yang memilki persoalan makna (Chaer, 2009: 6). Semantik bahasa terdiri atas: (1) tata bahasa (gramatika), (2)  fonologi (fonemik), (3) fonetik, dan (4) Leksikon.
Adanya beberapa jenis semantik, yang dibedakan berdasarkan tataran atau bagian dari bahasa itu yang menjadi objek penyelidikannya. Kalau yang menjadi objek penyelidikannya adalah leksikon dari bahasa itu maka jenis semantiknya disebut semantik leksikal. Pada semantik leksikal ini makna yang ada pada leksem-leksem itu disebut leksikal. Leksem adalah istilah yang lazim digunakan dalam studi semantik untuk menyebut satuan bahasa yang bermakna. Istilah leksem ini dapat dipandang istilah kata yang lazim digunakan dalam studi morfologi dan sintaksis, dan yang lazim didefinisikan sebagai satuan gramatikal bebas terkecil.
Pada tataran fonetik yaitu bidang studi yang mempelajari bunyi (fon) tanpa memperhatikan fungsi bunyi sebagai pembeda makna, tidak ada semantik karena fon yang menjadi satuan dari fonetik tidak memiliki makna. Karena tidak ada objek studinya maka tentu tidak ada ilmunya. Pada tataran fonologi (fonemik) pun tidak ada semantik karena, walaupun fonem yang menjadi satuan dalam studi fonemik mempunyai fungsi untuk membedakan makna kata, tetapi fonem itu sendiri tidak bermakna (Chaer, 2009: 8).
Tataran bahasa (gramatika) dibagi menjadi dua subtataran yaitu morfologi dan sintaksis. Morfologi cabang dari linguistik yang mempelajari struktur intern kata, serta proses-proses pembentukannya, sedangkan sintaksis adalah studi yang mengenai hubungan kata dengan kata dalam membentuk satuan yang lebih besar, yaitu frase, klausa, kalimat. Oleh karena itu, pada tataran ada masalah-masalah semantik yaitu yang disebut semantik gramatikal karena objek studinya adalah makna-makna gramatikal dari tataran tersebut. Selain itu ada pula semantik sintaksikal penyelidikan yang berkaitan dengan sintaksis. Mengingat bahwa dalam sintaksis ada pula tataran bawahan yang disebut.
1.      Fungsi gramatikal
2.      Kategori gramatikal
3.      Peran gramatik   
Fungsi gramatikal berupa “kotak-kotak kosong” yang diberi nama subjek, predikat, objek dan keterangan, sebenarnya tidak ada maknanya sebab semuanya Cuma berupa kotak yang kosong. Yang memiliki makna adalah pengisi kotak-kotak itu yang berisi kategori gramatikal seperti nomina, verba atau adjektiva. Kategori-kategori ini yang sesungguhnya sudah memiliki makna leksikal kini pengisi kotak-kotak itu memiliki peran gramatikal seperti peran agentif, pasien, objek, benafaktif, lokatif, instrumental.
Semantik sintaktikal yang dibicarakan diatas masih berada dalam lingkup tata bahasa atau gramatikal. Tetapi disamping itu ada hal-hal yang merupakan masalah semantik, namun bukan masalah ketatabahasaan, misalnya soal topikalisasi kalimat (Chaer, 2009: 10)
2.3    Manfaat Semantik
Manfaat apa yang dapat kita petik dari studi semantik sangat tergantung dari bidang apa yang kita geluti dalam tugas kita sehari-hari. Pengetahuan semantik akan memudahkan dalam memilih dan menggunakan kata dengan makna yang tepat dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat umum.
Bagi mereka yang berkecimpung dalam penelitian bahasa, seperti mereka yang belajar di fakultas sastra, pengetahuan semantik akan banyak memberi bekal teoritis kepadanya untuk dapat menganalisis bahasa atau bahasa-bahasa yang sedang dipelajarinya. Sedangkan bagi seorang guru atau calon guru, pengetahuan mengenai semantik, akan member manfaat teoritis dan juga manfaat praktis. Manfaat teoritis karena dia sebagai guru bahasa harus pula mempelajari dengan sungguh-sungguh akan bahasa yang diajarinya. Sedangkan manfaat praktis akan diperolenya berupa kemudahan bagi dirinya dalam mengajarkan bahasa itu kepada murid-muridnya. Seorang guru bahasa, selain harus memiliki pengetahuan dan keterampilan yang luas mengenai segala aspek bahasa, juga harus memiliki pengetahuan teori semantik secara memadai. Tanpa pengetahuan ini dia tidak akan dapat dengan tepat menjelaskan perbedaan dan persamaan semantik antara dua buah bentuk kata, serta bagaimana menggunakan kedua bentuk kata yang mirip itu dengan benar.
Selain itu, semantik juga bermanfaat bagi orang awam atau bagi orang-orang kebanyakan pada umumnya, pengetahuan yang luas akan teori semantik tidak kala diperlukan. Tetapi pemakaian dasar-dasar semantik tentunya masih diperlukan untuk dapat memahami dunia disekelilingnya yang penuh dengan informasi dan lalu lintas kebahasaan. Semua informasi yang ada disekelilingnya, dan yang juga harus mereka serap, berlangsung melalui bahasa, melalui dunia lingual. Sebagai manusia bermasyarakat tidak mungkin mereka bisa hidup tanpa memahami alam sekeliling mereka yang berlangsung melalui bahasa.
2.4    Ruang Lingkup Semantik
Seperti dinyatakan bahwa semantik mencakup bidang yang sangat luas, baik dari struktur dan fungsi bahasa maupun dari segi interdisiplin bidang ilmu (Fatimah, 2009: 4). Tetapi dalam hal ini ruang lingkup semantik terbatas pada hubungan ilmu makna itu sendiri dibidang linguistik. Faktor nonlingistik ikut mempengaruhi semantik sebagai fungsi bahasa non simbolik. Semantik adalah studi suatu pembeda bahasa dengan hubungan proses mental atau simbolisme dalam aktivitas bicara (Tarigan, 2004: 5).
Hubungan bahasa dengan proses mental dapat dinyatakan dengan beberapa cara. Beberapa pakar proses mental tidak perlu dipelajari karena membingungkan, sebagian lagi menyatakan bahwa proses mental harus dipelajari secara terpisah dari semantik, atau semantik dipelajari tanpa menyinggung proses mental. Dalam kenyataannya, semantik atau makna berkaitan erat dengan struktur dan fungsi. Artinya struktur tanpa makna dan manka tanpa struktur tidak mungkin ada. Jadi bentuk atau struktur, fungsi dan makna merupakan satu kesatuan dalam meneliti atau mengkaji unsur-unsur bahasa.
Dari adanya sejumlah tataran dan kompleksitas dapat dimaklumi bahwa meskipun makna dan lambang serta aspek semantik dan tata bahasa merupakan unsur-unsur yang tidak dapat dipisah-pisahkan, dalam menentukan hubungan semantik dan linguistik masih terdapat sejumlah perbedaan. Ada pengkaji yang lebih senang menyebut semantik dengan teori makna dan langsung memasukkannya kedalam bidang filsafat bahasa (Aminuddin, 2001: 27). Pada sisi lain ada juga pengkaji yang beranggapan bahwa selama dalam abstraksi dan proses relasi dan kombinasi, makna masih merupakan sesuatu yang abstrak sehingga kajian empiris dan hasil studi yang saintifik tidak mungkin dapat dilaksanakan dan dicapai.

  1. SIMPULAN
Dari pembahasan makalah di atas tentang Pengertian Semantik, Jenis Semantik, Manfaat Semantik Dan Ruang Lingkup Semantik dapat di ambil kesimpulan bahwa kata semantik yang digunakan untuk bidang linguistik yang mempelajari hubungan antara tanda-tanda linguistik dengan hal-hal yang di tandainya atau dengan kata lain bidang studi yang mempelajari makna atau arti dalam bahasa. Oleh karena itu kata semantik dapat diartikan sebagai ilmu tentang makna atau arti. Semantik bahasa terdiri atas:
1.    Tata bahasa (gramatika)
2.    Fonologi (fonemik)
3.    Fonetik
4.    Leksikon
Pengetahuan semantik akan memudahkan dalam memilih dan menggunakan kata dengan makna yang tepat dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat umum.

DAFTAR PUSTAKA
Aminuddin. 2001. Semantik Pengantar Studi Tentang Makna. Bandung: Sinar Baru Algensindo.
Chaer, Abdul. 2006. Bahasa Indonesia dalam Masyarakat: Telaah Semantik. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Chaer, Abdul. 2007. Leksikologi dan Leksikografi Indonesia. Jakarta: PT Rineka Cipta
Chaer, Abdul. 2009. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.
Djajasudarman, T Fatimah. 2009. Semantik 1 makna leksikal dan Gramatikal. Bandung: PT Refika Aditama.
Parera, J.D. 2004. Teori Semantik. Jakarta: Erlangga.
Pateda, Mansoer. 2010. Semantik Leksikal. Jakarta: Rineka Cipta.
Tarigan, Henry Guntur. 2011. Pengajaran Kosakata. Bandung: Angkasa.
Ullmann, Stephen. 2007. Pengantar Semantik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Verhaar. 2008. Asas-Asas linguistik Umum. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

sosiolinguistik



1.     PENDAHULUAN
1.1  Latar belakang
Sosiolinguistik ialah studi atau pembahasan  dari bahasa sehubungan dengan penutur bahasa itu sebagai anggota masyarakat (Nababan, 1993 : 2). Sosiolinguistik mengkaji bahasa, masyarakat dan hubungan bahasa dengan masyarakat. Bahasa di jumpai dimana-mana. Bahasa memegang peranan penting dalam kehidupan kita. Hal ini harus benar-benar, khususnya para guru dan guru pada bidang studi pada umumnyaa (Tarigan, 2009 : 2). Kehidupan manusia normal tidak dapat dipisahkan dari bahasa. Bahasa menyerap masuk ke dalam pemikiran-pemikiran kita, menjembatani hubungan kita dengan orang lain. Perangkat pengetahuan manusia yang demikian banyak juga disimpan dan disebarluaskan melalui bahasa. Hadirnya bahasa dalam kehidupan manusia demikian pentingnya. Bahasa juga salah satu ciri yang paling khas manusiawi yang membedakan dari makluk lain.
Sebagai objek dalam sosiolinguistik, bahasa tidak hanya dilihat atau didekati sebagai bahasa, sebagaimana dilakukan oleh linguistik umum, melainkan dilihat atau didekati sebagai sarana interaksi atau komunikasi didalam masyarakat manusia (Chaer dan Agustina, 2004:3). Salah satunya yaitu ilmu fisika. Bahasa juga sangat berhubungan erat dengan ilmu lainnya. Sehingga pada penyajian ini di arahkan dalam upaya memahami bahasa. Maka jelaslah, bahwa sosiolinguistik tidak akan terlepas dari persoalan hubungan bahasa dengan kegiatan-kegiatan atau aspek-aspek kemasyarakatan.
Sosiolinguistik mengkaji bahasa dimasyarakat yang berfungsi sebagai alat komunikasi. Untuk memperdalam dan memahami tentang ilmu sosiolinguistik tentang bahasa dan masyarakat inilah, kita perlu mempelajari tentang pandangan sosiolinguistik tentang bahasa dan dan hubungan bahasa dengan bahasa lainnya.
1.2  Rumusan masalah
1)      Bagaimana pandangan sosiolinguistik terhadap bahasa?
2)      Bagaimana hubungan bahasa dan ilmu bahasa lainnya?

1.3  Tujuan
1)      Kita dapat mengetahui dan memahami bagaimana pandangan ilmu sosiolinguistik terhadap bahasa.
2)      Kita dapat mengetahui dan memahami tentang hubungan antara bahasa dengan bahasa lain.

2.     PEMBAHASAN
2.1 Pandangan sosiolinguistik tentang bahasa
A.    Hakikat bahasa
Sudah banyak para ahli yang berpendapat mengenai bahasa seperti berikut ini:
Ø  Pengertian
·         Hasil pemikiran yang paling penting dan mencolok  mata adalah bahasa (Deese, 1984 : 2 dalam Tarigan, 2009 : 2).
·         Bahasa adalalah suatu sistem lambang berupa bunyi bersifat arbiter, digunakan oleh suatu masyarakat tutur untuk bekerjasama, berkomunikasi dan mengidentifikasi diri ( Chaer, 2006 : 1).
·         Bahasa sebagai alat komunikasi lingual manusia, baik secara lisan maupun tertulis  (Muslich, 2010:3).
·         Bahasa memeran peran penting dalam kehidupan manusia, karena tanpa bahasa semua bahasa tidak akan terjadi (Soelaeman, 2003 : 1).
·         Bahasa adalah kombinasi kata yang di atur secara sistematis sehingga, bisa di pakai sebagai alat komunikasi (Wibowo, 2003 : 3).

Ø  Batasan
Batasan bahasa ada lima hal yang penting yaitu bahwa bahasa itu :
1.      Manusiawi
2.      Dipelajari
3.      Sistem
4.      Arbiter
5.      Simbol (sapir, 1921 ; dalam Alwasilah, 1993 : 6).
Ø  Ciri-ciri
Ciri – yang merupakan hakikat bahasa itu antara lain, adalah bahwa bahasa itu sebuah sistem lambang, berupa bunyi, bersifat arbiter, produktif, dinamis, beragam, dan manusiawi (Chaer dan Agustina,2004:11).

Berikut dibicarakan ciri –ciri tersebut secara singkat :
1.      Bahasa adalah sebuah sistem lambang
Artinya, bahasa itu di bentuk oleh sejumlah komponen yang berpola secara tetap dan dapat dikaidahkan. Bagi orang yang mengerti sistem bahasa indonesia akan mengakui bahwa susunan “ibu meng ....seekor ... di ...” adalah sebuah kalimat bahwa bahasa indonesia yang benar sistemnya, meskipun ada sejumlah kemponennya yang di tanggalkan. Tetapi susunan “meng ibu se ikan goreng di ekor dapur“ bukanlah kalimat bahasa indonesia yang benar karena tidak tersusun menurut sistem kalimat bahasa indonesia.
Sistem bahasa yang dibicarakan diatas adalah berupa lambang - lambang dalam bentuk bunyi , artinya lambang - lambang itu berbentuk bunyi, yang lazim disebut bunyi ujar atau bunyi bahasa. Setiap lambang bahasa melambangkan sesuatu yang disebut makna atau konsep. Seperti, lambang bahasa yang berbunyi  {kuda} melambangkan konsep atau makna “sejenis binatang berkaki empat yang biasa dikendarai.
2.      Lambang bunyi bahasa bersifat arbitrer
Artinya hubungan antara lambang dengan yang dilambangkannya tidak bersifat wajib, bisa berubah, dan tidak dapat di jelaskan mengapa lambang tersebut mengonsepi makna tertentu. Secara konkret, mengapa lambang bunyi { kuda } digunakan untuk menyatakan “sejenis binatang  berkaki empat yang biasa dikendarai“ adalah tidak dijelaskan.
3.      Bahasa itu bersifat produktif
Artinya, dengan sejumlah unsur yang terbatas, namun dapat dibuat satuan - satuan ujaran yang hampir tidak terbatas. Umpamanya, menurut kamus umum bahasa indonesia susunan W.J.S Purwadarminta bahasa indonesia hanya mempunyai lebih kurang 23.000 buah kata tetapi dengan 23.000 buah kata itu dapat dibuat jutaan kaliamat yang tidak terbatas.
4.      Bahasa itu bersifat dinamis
Artinya, bahasa itu tidak terlepas dari berbagai kemungkinan perubahan sewaktu - waktu dapat terjadi. Perubahan itu dapat terjadi pada tataran apa saja : fonologis, morfologis, sintaksis, semantik, dan leksikon. Yang tampak jelas adalah biasanya adalah pada tataran leksikon.
5.      Bahasa itu bersifat beragam
Artinya, meskipun sebuah bahasa mempunyai kaidah atau pola tertentu yang sama, namun karena bahasa itu digunakan oleh penutur yang heterogen yang mempunyai latar belakang sosial dan kebiasaan yang berbeda, maka bahasa itu menjadi beragam baik dalam tataran fonologis, morfologis, sintaksis, maupun pada tataran leksikon. Bahasa Jawa yang digunakan di Surabaya tidak persis sama dengan yang digunakan di Pekalongan.
6.      Bahasa itu bersifat manusiawi
Artinya, bahasa sebagai alat komunikasi verbal hanya dimiliki oleh manusia.

Karakteristik unik pada komunikasi verbal manusia (Paul Ohoiwutun, 1997:15) :

1.      Bahasa-bahasa manusia memiliki sistem yang terpisah namun saling terkait baik pada tata bahasa, bunyi maupun isyarat.
2.      Bahasa-bahasa manusia memungkinkan terkomunikasinya hal-hal baru.
3.      Manusia membedakan antara isi pesan yang dikomunikasikan dengan label yang mewakili isi pesan.
4.      Dalam komunikasi manusia, bahasa lisan dapat dipertukarkan dengan makna yang di dengar.
5.      Bahasa-bahasa manusia di gunakan untuk maksud khusus; terdapat “kebohongan” yang disengaja di balik apa yang dikomunikasikan.
6.      Apa yang diutarakan dapat merujuk ke masa lampau dan masa yang akan datang.
7.      Bahasa manusia dipelajari anak-anak dari orang dewasa dan diturunkan dari generasi ke generasi.
Dari beberapa pendapat di atas dapat di simpulkan bahwa pada hakikatnya bahasa merupakan suatu alat yang terdiri dari susunan kata-kata memiliki makna yang digunakan oleh masyarakat dalam melakukan interaksi ataun komunikasi.
B.     Fungsi-fungsi bahasa
Bagi sosiolinguistik konsep bahwa bahasa adalah alat atau berfungsi untuk menyampaikan pikiran dianggap terlalu sempit (Abdul Chaer dan Leonie Agustina, 2004:15). Maksudnya dalam menggunakan bahasa manusia tidak hanya mengeluarkan ujaran dalam bahasa tetapi juga menggunakan bahasa nonverbal dengan tujuan untuk meyakinkan lawan pendengar.
1.      Dilihat dari sudut penutur
Bahasa itu berfungsi personal atau pribadi. Maksudnya, si penutur menyatakan sikap terhadap apa yang dituturkannya. Si penutur bukan hanya mengungkapan emosi lewat bahasa, tetapi juga memperlihatkan emosi sewaktu menyampaikan tuturannya. Dalam hal ini pihak si pendengar juga dapat menduga apakah si penutur sedih, marah, atau gembira.
2.      Dilihat dari segi pendengar atau lawan bicara, maka bahasa itu berfungsi direktif, yaitu mengatur tingkah laku pendengar. Di sini bahasa itu tidak  hanya membuat si pendengar melakukan sesuatu, tetapi melakukan kegiatan yang sesuai dengan yang di kehendaki
si pembicara. Hal ini dapat dilakukan si penutur dengan menggunakan kalimat-kalimat yang mnyatakan perintah, himbauan, permintaan, maupun. Pehatikan kalimat-kalimat berikut:
-          Harap tenang. Ada ujian.
-          Sebaiknya anda menelpon dulu.
3.      Di lihat dari kontak antara penutur dengan pendengar maka bahasa disini berfungsi fatik, yaitu fungsi menjalin hubungan, memelihara, memperlihatkan perasaan bersahabat atau solidaritas sosial.
4.      Di lihat dari segi topik ujaran, maka bahasa itu berfungsi referensian. Di  sini bahasa itu berfungsi sebagai alat untuk membicarakan objek atau peristiwa yang ada di sekeliling penutur atau yang ada dalam budaya pada umunya. Fungsi referensial yang melahirkan paham tradisional bahwa bahasa itu adalah alat untuk menyatakan pikiran, untuk menyatakn bagaimana pendapat si penutur tentang dunia di sekelilingnya.
5.      Di lihat dari segi kode maka bahasa itu berfungsi metalingual atau meta linguistik, yaitu bahasa itu di gunakan untuk membicarakan bahasa itu sendiri. Hal ini dapat dilihat dalam peroses dalam pelajaran bahasa di mana kaidah-kaidah atau aturan bahasa di jelaskan dengan bahasa.
6.      Di lihat dari segi amanat yang akan disampaikan maka bahasa itu berfungsi imaginasi. Fungsi imaginatif ini biasanya berupa karya  seni yang di gunakan untuk kesenangan penutup maupun para pendengarnya.
C.    Komunikasi bahasa
Ada 2 macam komunikasi bahasa yaitu komunikasi searah dan komunikasi dua arah (Chaer dan Agustina, 2004: 21).
Dalam komunikasi searah si pengirim tetap sebagai pengirim, dan penerima tetap sebagai penerima. Komunikasi searah ini terjadi misalnya khotbah, ceramah yang tidak di ikuti tanya jawab, pengumuman, dll. Komuniasi dua arah, secara berganti-ganti si pengirim bisa menjadi penerima dan penerima bisa menjadi pengirim. Misalnya rapat, diskusi, perundingan, musyawarah, dll.
Bahasa itu dapat mempengaruhi perilaku manusia. Maka kalau si penutur ingin mengetahui respon si pendengar terhadap tuturanya dia bisa melihat umpan balik yang dapat berwujud perilaku tertentu yang di lakukan pendengar setelah mendengar tuturan si penutur. Tentu saja umpan balik ini hanya ada pada komunikasi dua arah. Sebagai alat komunikasi bahasa itu terdiri atas dua aspek yaitu aspek linguistik dan aspek nonlinguistik. Kedua aspek ini bekerja sama dalam membangun komunikasi bahasa itu.

2.2Hubungan bahasa dan ilmu bahasa lain
Sosiolinguistik adalah gabungan antara ilmu sosial dan linguistik. Linguistik adalah seperangakat ilmu pengetahuan yang diperoleh dengan cara penerapan metode-metode ilmiah terhadap fenomena-fenomena bahasa (Gughes, 1968 : 11 ; dalam Tarigan, 1984 : 1). Sedangkan sosial berkaitan dengan masyarakat. Jadi, sosiolinguistik merupakan ilmu yang mempelajari bahasa di masyarakat. Sesuai dengan pendapat Sosiolinguistik sebagai cabang linguistik memandang atau menempatkan kedudukan bahasa dalam hubungannya dengan pemakaian bahasa didalam masyarakat, karena dalam kehidupan bermasyarakat. Manusia tidak lagi sebagai individu, akan tetapi sebahai masyarakat sosial (Wijana dan Rohmadi, 2010:7).
Sosiolinguistik sebenarnya tidak memperhatikan “aturan permainan” dalam bahasa (=tata bahasa), tetapi yang diperhatikan bagaimana pemakaian bahasa sehingga dia menjalankan fungsinya semaksimal mungkin. Orang lebih banya memperhatikan struktur.  Setelah timbul konflik-konflik bahasa karena fungsinya, maka orang mencari jalan dan melahirkan sosiolinguistik (Pateda, 1987 : 5).
Sosiolinguistik ialah studi atau pembahasan  dari bahasa sehubungan dengan penutur bahasa itu sebagai anggota masyarakat (Nababan, 1993 : 2). Sosiolinguistik mengkaji bahasa, masyarakat dan hubungan bahasa dengan masyarakat. Cangkupan sosiolinguistik akan semakin jelas jika di lihat hubungan sosiolinguistik dengan ilmu lain yang terkait, yaitu :
a.       Sosiolinguistik dengan sosiologi
Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan manusia sebagai individu atau sebagai kelompok masyarakat. Dengan demikian, hubungan sosiologi adalah proses antar hubungan manusia dalam masyarakat. Semua lapisan masyarakat berinteraksi menggunakan bahasa.
b.      Sosiolinguistik dengan pragmatik
Sosiolingistik mengkaji variasi bahasa dan penggunaan bahasa dalam hubungannya dengan perilaku masyarakat atau variasi bahasa salam hubungannya dengan konteks sosial masyarakat yang mendukungnya (Fishman, 1972 : 4 ; dalam Aslinda dan Syafyahya, 2007 : 12-13). Berbicara mengenai konteks berkaitan erat dengan ilmu pragmatik. Konteks adalah unsur diluar bahasa dikaji dalam pragmatik .
c.       Sosiolinguistik dengan antropologi
Antropologi mengkaji masyarakat dari sudut kebudayaan. Salah satu unsur kebudayaan adalah bahasa. Artinya dengan bahasa kita bisa mempelajari bahasa (Aslinda dan Syafyahya, 2007 : 12-13).

Menurut Abdul Chaer, 2003:4,  hubungan bahasa dengan ilmu bahasa lain, bisa kita lihat diantarannya pada ilmu susastra, ilmu sosial, ilmu psikologi, ilmu fisika, ilmu linguistik, ilmu kedokteran.

A.    Ilmu susastra
Memandang bahasa sebagai wadah seni; sebagai alat atau sarana untuk mengungkapkan karya seni. Bahasa dilihat dan digunakan sebagai sarana menciptakan keindahan. Misalnya : puisi, pantun, cerpen, novel, dan lain-lain.
 Berikut contoh pantun :
Limau purut di tepi rawa
Buah di ranting belum masak
Sakit peerut sebab tertawa
Melihat kucing duduk berbedak
B.     Ilmu sosial
Memandang bahasa sebagai alat interaksi sosial di dalam masyarakat. Dalam pandangan sosiolinguistik erat kaitannya dalam kehidupan manusia di masyarakat. Manusia pada hakikatnya adalah makluk sosial, yaitu membutuhkan orang lain untuk membantu melakukan suatu kegiatan, terlebih lagi dalam kehidupan bermasyarakat. Manusia menggunakan bahasa sebagai alat untuk melakukan sebuah hubungan atau komunikasi antar sesama masyarakat. Dengan demikian bahasa mempunyai peran penting dalam kegiatan manusia dimasyarakat.


C.     Ilmu psikologi
Dalam ilmu psikologi apabila seseorang jiwanya memiliki gangguan maka biasanya berakibat pada bahasa yang digunakan. Bahasa yang dikeluarkan oleh yang sedang terganggu jiwanya, akan berbeda bahasa yang dikeluarkan oleh orang yang normal. Orang yang terganggu jiwanya akan cenderung mengeluarkan bahasa yang tidak beraturan atau kasar, Misal : ada seorang anak yang berasal dari brokenhome, pasti jiwa nya terganggu karena tidak terima atau marah pada kondisi keluargannya yang hancur, dia juga akan merasa malu. Dilingkungan, saat berinteraksi dengan temannya, ia menggunakan bahasa yang kasar. Itu disebabkan oleh keadaan jiwanya.


D.    Ilmu fisika
Memandang bahasa sebagai fenomena alam, yakni sebagai gelombang bunyi yang merambat dari mulut pembicara ketelinga si pendengar.
E.     Ilmu linguistik
Ilmu yang memperlakukan bahasa sebagai bahasa. Linguistik yaitu ilmu tentang bahasa. Untuk mempelajari ilmu linguistik, kita memerlukan bahasa untuk menjelaskannya.
F.      Ilmu kedokteran
Memandang bahasa sebagai cara untuk mengungkapkan berbagai penyakit dan pengobatannya. Di dalam ilmu kedokteran, agar pasien mengetahui penyakitapa yang diderita, maka dokter menggunakan bahasa untuk memberi tau jenis penyakit apa yang sedang diderita oleh pasiennya. Begitu juga dalam menulis resep obat, dokter menggunakan bahasa tulis untuk membuat resep obat.

3.     PENUTUP
3.1 Simpulan
 Bahasa adalah ciri khas yang dimiliki manusia yang membedakan dengan makluk lain. Bahasa juga yang menjembatani hubungan antar masyarakat. Sehingga bahasa sangat dekat sekali dengan masyarakat dalam kehidupan masyarakat. Bahasa mengambil peran penting dalam kehidupan masyarakat. Ciri-ciri bahasa-pun beragam yaitu bahasa sebagai sistem, bahasa sebagai lambang, bahasa bersifat arbiter, bahasa bersifat produktif, bahasa bersifat dinamis, bahasa bersifat bersifat manusiawi, dan lain-lain. pada hakikatnya bahasa merupakan suatu alat yang terdiri dari susunan kata-kata memiliki makna yang digunakan oleh masyarakat dalam melakukan interaksi ataun komunikasi. Karena bahasa tidak lepas dari kehidupan manusia.
Fungsi bahasa bisa kita lihat dari segi penutur, dari segi pendengar, dari segi kontak antara penutur dan pendengar, dari segi topik ujaran, dari segi kode yang digunakan dan dilihat dari segi amanat. Adapun bahasa juga berhubungan dengan disiplin ilmu lainnya. Hal itu dikarenakan bahasa merupakan bagian yang sangat erat dan dekat dengan kehidupan manusia.

DAFTAR PUSTAKA
Chaer, Abdul, & Leonie Agustina. 2004. Sosiolinguistik Perkenalan Awal. PT Rineka Cipta : Jakarta.
Chaer, Abdul. 2003. Linguistik Umum. PT Rineka Cipta: Jakarta.
Ohoiwutun, Paul. 1997. Sosiolinguistik. Visipro: Jakarta.
Aslindadan Leni Syafyahya. 2007. Pengantar sosiolinguistik. PT. Refika Aditama: Bandung.
Nababan, P.W.J. 1993. Sosiolinguistik : suatu pengantar. PT. Gramedia: Jakarta.
Pateda, Mansoer. 1987. Sosiolinguistik. Angkasa: Bandung.
Alwasilah, Chaedar. Pengantar sosiologi bahasa. 1993. Bandug: Angkasa.
Tarigan, Henry Guntur. 2009. Pengajaran Wacana. Angkasa Bandung: Bandung.
Tarigan, Henry Guntur. 2009. Pengajaran Pragmatik. Angkasa Bandung: Bandung.
Tarigan, Henry Guntur. 1984. Pengajaran sintaksis.  Angkasa Bandung: Bandung.
Chaer, Abdul. 2006. Tata Bahasa Praktis Bahasa Indonesia. Rineka Cipta: Jakarta.
Muslich, Masnur. 2010. Bahasa pada Era Globalisasi: kedudukan, fungsi, pembinaan, dan pengembangan. Bumi Aksara: Jakarta.
B, Soelaeman dkk. 2003. Bahasa Indonesia Hukum. Pustaka: Bandung.
Wijana, Dewa Putu dan Muhamad Rohmadi. 2010. Sosiolinguistik: kajian teori dan analisis. Pustaka Pelajar: Yogyakarta.
Wibowo, Wahyu. 2003. Manajemen Bahasa. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta.