Rabu, 07 Mei 2014

PROSES PENAMAAN



Pembahasan
A. Proses Penamaan
Nama merupakan kata-kata yang menjadi label pada setiap makhluk, benda, aktifitas, dan peristiwa di dunia ini, Nama-nama ini muncul akibat dari kehidupan manusia yang kompleks dan beragam, alam sekitar manusia berjenis-jenis. Kadang-kadang manusia sulit memberikan label satu per satu, oleh karna itu muncul nama-nama kelompok, misalnya binatang, burung, ikan, dan sebagainya, dan tumbuh-tumbuhan tak terhitung jumlah jenis, binatang, jenis burung, dan jenis tumbuhan yang ada di dunia ini. Di dalam kehidupan sehari-hari ada kata yang mudah dihubungkan dengan bendanya, ada pula yang sulit dan tidak mengacu pada benda nyata (konkret), lebih mengacu kepada pengertian. Misalnya: demokrasi, korupsi, partisipasi, deskripsi, argumentasi, dan lain-lain. Dalam kata-kata tersebut, kita mengerti (paham kata tersebut) tetapi wujudnya tidak dapatdihayati secara nyata. Kata-kata yang tidak dapat dihayati wujudnya tersebut berbeda dengan kata-kata yang dapat dihayati wujudnya, misalnya; kursi, meja, gunung (Djajasudarma, 2009 : 47).
Sedangkan nama tertentu yang bersifat khusus untuk setiap bidang ilmu, disebut dengan istilah. Istilah adalah nama tertentu yang yang bersifat khusus atau suatu nama yang berisi kata atau gabungan kata yang cermat, mengungkapkan makna, konsep, proses, keadaan, atau sifat yang khas di bidang tartentu. Manusia dalam interaksinya menggunakan bahasa.Sebagai gejala budaya, bahasa bersifat dinamis, bahasa tumbuh dan berkembang sejalan dengan meningkatnya kemajemukan persepsi manusia terhadap makrokosmos (dunia sekitarnya) dan mikrokosmos (dunia pribadinya) (Djajasudarma, 2009 : 49).
Dalam pembicaraan mengenai hakikat bahasa dapat dikatakan bahwa bahasa adalah sistem lambang bunyi yang bersifat arbitrer.Maksudnya, antara satu satuan bahasa, sebagai lambang misalnya kata, dengan suatu benda atau hal yang dilambangkannya bersifat sewenang-wenang tidak ada hubungan “wajib” diantara keduanya.Umpamanya antara kata < kuda > dengan benda yang diacunya yaitu seekor binatang yang bisa dikendarai atau dipakai menarik pedati, tidak bisa dijelaskan sama sekali. Lagipula andai kata ada hubunganya antara lambang dengan yang dilambangkannya yaitu, tentu orang jawa tidak akan menyebutnya < jaran>, orang inggris tidak akan menyebutnya < horse > , dan orang belanda tidak akan menyebutnya < paard >. Tentu mereka semua akan meyebutnya juga < kuda >, sama dengan orang Indonesia(Chaer, 2009 : 43).
Telah dikatakan bahwa bahasa adalah sistem tanda yang digunakan untuk berkomunikasi.Tanda yang dimaksud di sini berupa lambang. Lambang dalam bahasa berisi dua, yakni bentuk (expression, signifier), dan makna (contents, signified). Salah satu pendapat tertua yang dikemukakan oleh plato di dalam suatu percakapan yang berjudul cratylus atau cratylos, lambang adalah kata di dalam suatu bahasa, sedangkan makna adalah objek yang kita hayati di dunia nyata berupa acuan yang ditunjukan oleh lambang tersebut. Karena itu, kata-kata dapat dikatakan sebagai nama, label setiap benda, aktivitas atau peristiwa. Tidak heran apabila seorang anak mengenal bahasa dari proses belajar nama-nama tersebut. Kadang-kadang anak manamai sesuatu melewati bunyi yang di dengarnya dari ayah dan ibunya. Kita akan mendengar bunyi “da…da…da..”kalau si anak melihat ayah dan ibunya ketika menghampirinya atau untuk menyebut benda-benda yang ia lihat yang terdapat di dalam sebuah buku. Karena hidup manusia beraneka ragam dan alam sekeliling manusia berjenis-jenis, maka manusia sulit memberikan label-label terhadap benda yang ada di sekelilingnya. Dengan demikian lahirlah nama kelompok, misalnya binatang, buah-buahan, ikan, burung, rumput, tumbuh-tumbuhan. Tidak terhitung banyaknya jenis rumput dan tak terhitung pula jenis binatang yang ada di dalam laut yang belum mempunyai label dalam BI.
Kalau kita mengambil sejenis rumput dan kemudian kita tanyakan kepada seseorang, apakah nama rumput ini, maka orang itu pasti akan menjawab rumput; tanpa merincikan jenis rumput tersebut secara tepat. Demikian pula untuk buah-buahan, burung-burungan, pohon-pohonan, dan jenis insekta.Pergilah Anda ke sawah atau ke dalam hutan. Anda akan sulit mengatakan nama jenis tumbuhan atau nama jenis pohon yang ditemukan. Persoalan timbul, misalnya jagung dan beras, mengapa benda tersebut di beri nama dengan jagung dan beras? Mengapa tidak disebut jiging atau biris? Mengapa kata jagung di dalam BI, dalam bahasa Gorontalo menjadi binde, padahal acuanya sama? Demikian juga dengan beras dalam BI, tetapi di dalam bahasa Gorontalo menjadi pale tapulio, padahal acuannya juga sama? Maka dari itu ada beberapa pendapat dari para pakar: - Plato (429-348 SM) Mengemukakan ada hubungan hayati antara nama dan benda. Namun ia pertanyakan, apakah pemberian nama kepada benda didasarkan pada pemberian sewenang-wenang atau atas perjanjian? Apakah penamaan itu berdasarkan padafaktor kesukarelaan atau persetujuan dari semua golongan? - Socrates, guru Plato Mengatakan bahwa nama harus sesuai dengan sifat acuan yang diberi nama. - Aristoteles (384-322 SM), murid Plato Mengatakan bahwa pemberian nama adalah soal perjanjian, konvensi, atau perjanjian belaka diantara sesama anggota suatu masyarakat bahasa. Yang dimaksud dengan perjanjian di sini bukan berarti bahwa dahulu ada sidang masalah nama, untuk sesuatu yang diberi nama. Nama tersebut biasanya berasal dari seseorang yang namanya pakar, ahli, penulis, pengarang, wartawan, pemimpin Negara, tokoh masyarakat yang kemudian di populerkan oleh masyarakat, baik melaluimedia massa, elektronik maupun nonelektronik, atau bisa juga melalui pembicaraan tatap muka. Misalnya dalam bidang fisika dikenal hukum Boyle, Archimedes, karena penemu hukum tersebut adalah Boyle, Archimedes.
Jadi proses penamaan suatu benda, muncul karena adanya suatu benda yang ingin diberi nama. Pemberian nama itu disesuaikan dari daerah yang berbeda-beda. Pada dasarnya walaupun nama suatu benda tersebut berbeda, tetapi acuanya tetap sama yaitu Bahasa Indonesia . Kadang-kadang nama suatu benda masih dapat diusut asal-usulnya, misalnya nama Banyuwangi dan Minangkabau. Kadang-kadang bendanya belum ada, tetapi namanya telah disiapkan lebih dahulu, misalnya bayi yang belum dilahirkan.Setiap disiplin ilmu memberikan nama tertentu untuk sesuatu benda, fakta, kejadian atau proses. Setiap bangsa atau etnik grup menggunakan nama tertentu untuk benda, proses, kegiatan proses tertentu. Namun itu berbeda dengan yang ada pada suku bangsa (etnic groep) atau pada bangsa lain. Misalnya bangsa Indonesia menamai benda ini(rumah) dengan kata rumah, orang Gorontalo bele, orang Inggris menamainya dengan sebutan house, dan orang Belanda menyebutnya huis. Dengan demikian, nama bersifat arbitrer. Masalah perbedaan itu saat ini sulit di jawab, karena nama bersifat mana suka. Persoalan nama perlu di bedakan dengan definisi, juga dengan istilah. Baik definisi maupun istilah berisi pembatasan tentang suatu fakta, peristiwa, benda, proses. Misalnya kita ingin melakukan pembatasan terhadap kata benda seperti “kursi”bukanlah istilah. Kita dapat mengatakan bahwa kursi adalah seluruh realisasi benda yang di sebut kursi.Seandainya ada seseorang yang membawa kepada kita sebuah tangan kursi, maka tangan kursi tersebut tak dapat disebut dengan kursi.Jadi dengan menyebutkan nama kursi kita telah memberikan pembatasan terhadap suatu benda, fakta, peristiwa, atau kejadian, baik pembatasan yang dilihat dari unsur-unsurnya maupun pembatasan yang dilihat dari benda-benda lain yang ada di sekeliling kita (Pateda, 2010 : 62-65).
B. Peniruan Bunyi
Dalam bahasa Indonesia, ada sejumlah kata yang terbentuk sebagai hasil peniruan bunyi. Maksudnya yaitu, nama-nama benda atau hal tersebut di bentuk berdasarkan bunyi dari benda tersebut atau suara yang ditimbulkan oleh benda tersebut. Misalnya, binatang sejenis reptil kecil yang melata di dinding disebut cecek, karena bunyi yang ditimbulkan cecak yaitu “cak..cak...cak..”. Begitu juga dengan tokek, binatang tersebut di beri nama tokek, karena bunyi yang ia timbulkan yaitu “tokek..tokek..”, menurut bahasa dibentuk berdasarkan tiruan bunyi ini disebut kata peniru bunyi atau onomatope. Sejalan dengan itu banyak pula dibentuk kata kerja atau nama perbuatan dari tiruan bunyi itu. Misalnya dapat dikatakan anjing menggonggong, ayam berkotek, ular mendesis, dan lain-lain.Dalam bercerita pun orang acap menirukan bunyi-bunyi benda atau hal yang diceritakan, seperti: - Kudengar bunyi ketukan pintu “tok, tok, tok,” dan sebelum aku bangkit ia telah muncul di pintu. Kata-kata yang dibentuk berdasarkan tiruan bunyi ini sebenarnya juga tidak percis sama, hanya mirip saja, mengapa? Yang pertama, karena benda atau binatang yang mengeluarkan bunyi itu tidak mempunyai alat fisiologis seperti manusia. Yang kedua, karena system fonologi setiap bahasa tidak sama. Itulah sebabnya, mengapa orang sunda menirukan kokok ayam jantan sebagai [kongkorongkonk], orang melayu Jakarta sebagai [kukuruyuk].
C. Penyebutan Bagian
Dalam bidang kesusastraan ada istilah pars prototo yaitu bagian bahasayang menyebutkan bagian dari suatu benda atau hal, padahal yang di maksud adalah keseluruhanya. Misalnya kata kepala dalam kalimat “setiap kepala menerima bantuan seratus ribu rupiah”, bukan dalam arti “kepala” itu saja, melainkan seluruh orangnya sebagai satu kesatuan. Penamaan sesuatu benda atau konsep berdasarkan bagian dari benda itu biasanya berdasarkan ciri yang khas atau yang menonjol dari benda itu dan yang sudah diketahui umum. Misalnya, “pada tahun enam puluhan, kalau ada orang mengatakan; ingin membeli rumah, tetapi tidak ada sudirmanya” maka dengan kata sudirman yang dimaksud adalah (uang) karena pada saat itu uangnya bergambar almarhum jendral sudirman. Kebalikan pars prototo dalah gaya retorika yang disebut totem proparte yaitu menyebut keseluruhan untuk sebagian. Misalnya kalau Indonesia memenangkan medali perak di “Olimpiade”, yang dimaksud hanyalah tiga orang atlet panah putra.
D. Penyebutan Sifat Khas
Hampir sama dengan pars prototo, yang dibicarakan diatas adalah penamaan suatu benda berdasarkan sifat yang khas yang ada pada benda itu. Gejala ini merupakan gejala semantik karena dalam perisiwa itu terjadi transposisi makna dalam pemakaian yakni, perubahan dari kata sifat menjadi kata benda. Disini terjadi sifat itu mendesak kata bendanya karena sifatnya yang amat menonjol itu, sehingga akhirnya, kata sifat itulah yang menjadi nama benda itu sendiri. Umpamanya orang yang amat kikir, lazim disebut si kikir atau si bakhil.
E. Penemu Dan Pembuat
Banyak nama benda dalam kosakata bahasa Indonesia yang dibuat berdasarkan nama penemunya, nama pabrik pembuatnya, atau nama dalam peristiwa sejarah. Nama-nama benda yang demikian disebut dengan istilahappelativa. Nama-nama benda yang berasal dari nama orang, antaralain; mujairyaitu nama sejenis ikan air tawar yang mula-mula ditemukan dan diternakkan oleh seorang petani yang bernama Mujair di Kediri, Jawa Timur. Contoh lain,Voltnama satuan kekuatan aliran listrik yang diturunkan dari nama penciptanya yaitu Volta (1745-1787) seorang sarjana fisika bangsa Italia. F. Tempat Asal Sejumlah nama benda dapat ditelusuri berasal dari nama tempat asal benda tersebut. Misalnya kata magnet berasal dari nama tempat magnesia, kata kenari, yaitu nama sejenis burung, yang berasal dari nama pulau Kenari di Afrika. Banyak Juga nama piagam atau nama prasasti yang disebut berdasarkan nama tempat penemunya seperti piagam kota kapur, prasasti. Kedudukan Bukit, piagam Telaga Batu dan piagam Jakarta. Juga banyak nama perundingan atau perjanjian berdasarkan nama tempat perundingan itu di rundingkan, misalnya perjanjian Gianti, perjanjian Linggarjati. Selain itu, malah juga banyak kata kerja yang dibentuk dari nama tempat misalnya, di Nusakambangkan yang berarti dibawa atau di penjarakan di pulau Nusa Kambangan, dan lain sebagainya.
G. Bahan
Ada sejumlah benda yang namanya diambil dari nama bahan pokok benda itu sendiri. Contoh: kacanama bahan. Lalunama barang-barang lain yang dibuat dari kaca disebut jaga kaca seperti kaca mata, kaca jendela, kaca spion, dan kaca mobil. Begitu juga kataperak dan kaleng yang pada mulanya adalah nama bahan, maka kemudian semua barang yang dibuat dari kedua benda itu disebut dengan nama bahan itu juga, seperti uang perakan (rupiah), kalung perak, kaleng susu, kaleng minyak, dan kue kaleng (Chaer, 2009 :49).

Simpulan
Proses penaman adalah proses dimana kita manusia memberikan nama terhadap suatu benda yang belum mempunyai nama. Cara dan prosesnya pun berbeda-beda, sesuai dengan benda tersebut sehingga munculah nama benda. Dalam proses penamaannya pun tidak sama, ada yang sesuai dengan persetujuan, ada juga yang sesuai dengan sifat benda tesebut, karena nama merupakan kata-kata yang menjadi label setiap makluk, benda, aktivitas dan peristiwa di dunia ini. Di setiap daerah pemberian nama pada suatu benda, bisa berbeda-beda tetapi masih tetap pada satu acuan yaitu Bahasa Indonesia .Misal : nama beras dalam Bahasa Indonesia, tetapi dalam bahasa Gorontalo menjadi pale tapulio.Nama-nama itu muncul akibat dari kehidupan manusia yang kompleks dan beragam, alam sekitar manusia yang berjenis-jenis.Cara pemberian nama beraneka ragam diantaranya berasal dari peniruan bunyi, penyebutan bagian, penyebutan sifat khas, penemu dan pembuat, tempat asal, dan bahan.
Daftar Pustaka
Chaer, Abdul. 2009. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Rineka Cipta. Djajasudarma, T. Fatimah. 2009. Semantik 1. Bandung: PT Refika Aditama. Pateda, Mansoer. 2010. Semantik Leksikal. Jakarta: Rineka Cipta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar