Rabu, 07 Mei 2014

DERITA RUMPUT LIAR


 

Saat sang surya tak lagi menampakkan diri, saat itulah kehancuranku datang. Saat cahaya yang sangat aku butuhkan tak akan pernah lagi muncul, maka saat itulah sengsara selalu menghantuiku. Kalau boleh rumput liar ini meminta padamu Sang Pemilik Jagad Raya, maka izinkanlah cahaya itu hadir kembali untukku. Aku membutuhkannya. Aku butuh sosok yang selalu memberi cahaya untukku. Aku butuh cahayanya untuk hatiku, jiwa, dan ragaku. Tanpa cahaya itu, aku mati. Aku mati. Aku mati. Bahkan aku mati tiga kalipun cahayaku tak mungkin kembali. Engaulah pemiliknya. Sudah jelas kaulah pemilih jagad raya ini, termasuk cahayaku juga milik-Mu.
Takbir selalu ku jalankan. Tasbih selalu ku dendangkan. Menyebut-Mu setiap aku merasa sesak juga sudah. Namun, aku hanya sebuah rumput liar bukan malaikat. Aku lemah bila tak ada cahaya. Karena tak ada cahaya  aku menjadi liar. Aku merasa sebatang kara, meski aku masih punya Engkau Ibu dari segala Ibu. Kau lah pengganti ibuku. Saat seorang anak tak punya tempat untuk mengadu, Engkaulah tempatnya. Saat mata ini malu menangis di hadapan Ayahku, maka kaulah yang setia mendengar deru deramku. Saat wajah ini malu berbagi pada saudara kandungku, maka kaulah teman berbagi. Meski tak sepatah katapun komentar terucap. Namun lewat cara-Mu aku merasakannya.
Hanya Engkau dan aku yang tahu segala isi hati si rumput liar. Jelas aku sangat mencintai Ibuku, namun lebih dari itu aku adalah hamba-Mu yang sangat patuh pada-Mu. Aku ikhlas Ibuku kembali pada-Mu. Jagalah Ibuku dan jagalah aku.
Kokok ayam membangunkanku. Ternyata tubuhku masih berada di atas sajadah usang yang hampir sobek. Sedari subuh aku mengadu pada Sang Khalik. Dengan cepat ku bereskan semua peralatan sholat dan membasuh wajahku yang sembab. Segera ku cari Ayahku.
“Ayah...?”
“Ayah...?” Tak ada sahutan, hanya suara gemercik air dari arah belakang rumah.
Tak lama Ayah muncul dari balik pintu. Entah mengapa semenjak Ibu tidak ada, aku selalu merasa miris melihat Ayah. Ayahku sudah cukup tua, fisiknya seakan tak kuat lagi melakukan pekerjaan berat. Tapi, demi aku Sakira Azahwa anak tunggalnya, beliau tak kenal lelah bekerja keras. Kembali perasaan ini muncul, ya Allah terima kasih masih memberikan aku sedikit cahaya hidup. Meski cahaya ini tak seterang cahaya yang telah Engkau ambil, tapi aku bersyukur mempunyainya. Berikanlah selalu kesehatan bagi cahayaku, karena kesehatan adalah hal yang terpenting baginya saat ini. pecah lamunanku saat Ayah menyapaku lembut.
“ Zahwa, belum berangkat kuliah nak? Ini sudah jam 6 nanti kamu terlambat. Ayah juga sebentar lagi mau berangkat ke kantor.”
“ iya Ayah, hari ini Zahwa libur”. Entah mengapa aku berbohong pada Ayah. Rasanya hari ini aku ingin di rumah saja. Padahal tidak ada pekerjaan penting yang harus dikerjakan.
“ Ya sudah, Ayah tinggal ya.” Dengan langkah kecil Ayah menuju kamarnya. Aku hanya mengangguk pelan.
Waktu sudah menunjukkan jam 10 pagi. Namun sejak Ayah berangkat ke kantor sampai sekarang aku hanya duduk termenung di atas kursi panjang dengan ditemani suara televisi yang menyala kuat. Entah apa yang aku lamunkan. Hari ini aku merasa sangat sepi. Aliran darah mengalir dengan cepat. Jantungku juga berdegup hebat. Perut yang sedari malam tidak di isi terus memberi kode. Seketika itu aku beranjak dari tempat dudukku dan segera mempersiapkan makan siang untukku dan untuk Ayahku. Biasanya Ayah pulang kantor sekitar jam 11 siang. Aku punya waktu satu jam untuk mempersiapkan makan siang untuk Ayah.
Tepat pukul 10.50 makan siang sudah tertata rapi di atas meja makan. Hanya lauk sederhana, namun Ayah sangat menyukai makanan ini. tempe goreng, sayur asem dan sambal tumis. Masih ada waktu 10 menit sebelum Ayah pulang. Ku putuskan untuk mandi terlebih dahulu. Aku seakan tak ingin melewatkan makan siang bersama Ayah.
Setelah mandi, aku merasa pandangan mataku buram. Mungkin ini karena aku belum makan. Tapi aku ingin makan bersama dengan Ayah. Tekatku sudah bulat. Untuk mengusir rasa lapar, kuputuskan untuk menonton televisi.  Waktu berjalan seakan lama sekali. Tak sabar aku menunggu kedatangan Ayah. Sudah satu jam lebih aku menonton televisi. Kudengar azan zhuhur berkumandang tanda waktu sholat zhuhur sudah tiba. Segera ku ambil air whudu dan melaksanakan kewajibanku sebagai umat islam. Setelah sholat, air mataku tumpah. Entah apa sebabnya. Tapi, dadaku terasa sesak sekali. Tangisku semakin menjadi. Sudah ku coba untuk berhenti menangis, namun air mataku tetap saja mengalir deras, bahkan suara isakanpun mulai terdengar. Ada apa ini.
Aku merasa mataku bengkak. Susah sekali untuk membuka mata. Suasana di sekeliling terasa pengap sekali. Aku berusaha untuk membuka mataku cepat. Saat aku membuka mata tubuhku seakan di angkat dan segelas air mendarat dibibirku. Aku makin heran, saat mataku terbuka lebar ku pandang sekeliling meski agak kabur. Ramai sekali orang di rumah Ayah. Saat nama Ayah terbesit dalam pikiran, aku langsung berdiri dan mencari Ayah. Semua mata tertuju padaku. Langkah kaki gontai memapaku sampai pada sekelompok orang yang sedang melafaskan ayat-ayat alqur’an. Aku mendekati sekelompok umat Allah yang sangat khusuk membaca alqur’an. Ya Allah, siapa yang sedang terbujur kaku di antara hamba-hambamu itu. Apa maksud dari semua ini. secepat inikah engkau ambil lagi cahayaku? Sesingkat inikah yang bisa hamba rasakan kasih sayangnya? Apa tak bisa menunggu sampai aku selesai makan siang bersamanya? Ya allah inikah kuasamu? Inikah caramu yang maha adil? Sungguh aku sesak. Aku sakit. Aku sedih. Bahkan dalam sedih dan sakitku saat ini, tak bisa lagi ku keluarkan air mata. Bahkan satu katapun tidak. Cahaya-cahaya dalam hidupku, aku sangat menyayangimu. Ayah dan Ibu yang luar biasa, aku mencintai kalian. Tapi, ada yang lebih mencintai dan menyayangi kalian selain aku. Tak lain adalah Alah SWT pemilik bumi dan isinya. Aku ikhlaskan semuanya. Aku percaya padanya. Kini aku benar-benar rumput liar. Tak ada lagi cahaya penopang hidupku. Aku hanya tumbuh gersang di atas sebidang tanah tandus tanpa cahaya. Dan kapan saja pemilih tanah mau, aku bisa saja langsung di cabut dari sang pemilik tanah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar