Rabu, 28 Mei 2014

SEMANTIK



PENGERTIAN, JENIS, MANFAAT, DAN RUANG LINGKUP SEMANTIK

1.        PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang
Kearbiteran lambang bahasa menyebabkan orang, dalam sejarah linguistik, agak menelantarkan penelitian mengenai makna bila dibandingkan dengan penelitian di bidang morfologi dan sintaksis. Makna dalam objek studi semantik, sangat tidak jelas strukturnya. Berbeda dengan morfologi dan sintaksis yang struktunya jelas sehingga mudah dianalisis.
Namun sejak tahun empat puluhan studi mengenai makna ini menjadi kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dari studi linguistik lainnya. Mengapa? Karena orang mulai menyadari bahwa kegiatan berbahasa sesungguhnya adalah kegiatan mengekspresikan lambang-lambang bahasa tersebut, kepada lawan bicaranya (dalam komunikasi tulis). Jadi, pengetahuan akan adanya hubungan antara lambang atau satuan bahasa, dengan maknanya sangat diperlukan dalam berkomunikasi dengan bahasa itu.
Dalam makalah ini penulis coba menjelaskan mengenai apa itu pengertian semantik, bagaimana jenis semantik, apa saja manfaat semantik dan bagaimana ruang lingkup semantik.

2.        PEMBAHASAN

2.1    Pengertian Semantik
Ada dua cabang utama linguistik yang khusus menyangkut kata yaitu etimologi, studi tentang asal usul kata, dan semantik atau ilmu makna, studi tentang makna kata. Diantara dua ilmu itu etimologi sudah merupakan disiplin ilmu yang mapan, sedangkan semantik relatif merupakan hal baru (Ullmann, 2007: 1).
Istilah semantik baru muncul pada tahun 1894 yang dikenal melalui American philological Association (Organisasi Filologi Amerika). Istilah semantik sudah ada sejak abad ke 17 melalui frase semantics philosophy. Kata semantik berasal dari bahasa Indonesia dan dari bahasa Yunani sema (kata benda yang berarti “tanda”atau “lambang”). Kata kerjanya adalah semaino yang berarti “menandai” atau “melambangkan”. Yang dimaksud dengan kata atau lambang di sini sebagai kata sema adalah tanda linguistik yang terdiri dari 2 komponen.
1.      Komponen yang berwujud bentuk-bentuk bunyi bahasa.
2.      Komponen yang diartikan atau makna dari komponen yang pertama.
Dari kedua komponen ini merupakan tanda atau lambang, sedangkan yang ditandai atau dilambanginya adalah sesuatu yang berada di luar bahasa yang lazim disebut referen.
Studi semantik lazim diartikan sebagai bidang dalam linguistik yang meneliti atau membicarakan, atau mengambil makna bahasa sebagai objek kajiannya (Chaer, 2007: 115).
Kata semantik yang digunakan untuk bidang linguistik yang mempelajari hubungan antara tanda-tanda linguistik dengan hal-hal yang di tandainya atau dengan kata lain bidang studi yang mempelajari makna atau arti dalam bahasa. Oleh karena itu kata semantik dapat diartikan sebagai ilmu tentang makna atau arti (Chaer, 2009: 2).
Menurut Tarigan (2011: 147) semantik adalah telaah makna. Semantik menelaah lambang-lambang atau tanda-tanda yang menyatakan makna, hubungan makna yang satu dengan yang lain, dan pengaruhnya terhadap manusia serta masyarakat.
Sedangkan menurut Korzybski seperti yang dikutip Parera (2004: 18), semantik ialah studi tentang kemampuan manusia untuk menyimpan pengalaman dan pengetahuan lewat fungsi bahasa sebagai penghubung waktu, bahasa mengikat waktu, dan bahasa mengikat umur manusia bersama.
Semantik mengandung pengertian “studi tentang makna”. Dengan anggapan bahwa makna menjadi bagian dari bahasa, maka semantik  merupakan bagian dari linguistik, seperti halnya bunyi dan tata bahasa, komponen makna dalam ini juga menduduki tingkatan tertentu. Apabila komponen bunyi umumnya menduduki tingkatan pertama, tata bahasa pada tingkatan kedua, maka komponen makna menduduki tingkatan paling akhir. Hubungan ketiga komponen itu sesuai dengan kenyataan bahwa.
1.      Bahasa pada awalnya merupakan bunyi-bunyi abstrak yang mengacu pada lambang-lambang tertentu.
2.      Lambang-lambang merupakan seperangkat sistem yang memiliki tataan dan hubungan.
3.      Seperangkat lambang yang memiliki bentuk dan hubungan itu mengasosiasikan adanya makna tertentu (Aminuddin, 2001: 15).                                                                                                             

Semantik ada pada ketiga tataran bahasa (fonologi, morfologi, sintaksis, dan leksikon). Morfologi dan sintaksis termasuk ke dalam gramatika atau tata bahasa.(Fatimah, 2009: 1)
Dengan tataran analisis bahasa lainnya, semantik merupakan cabang linguistik yang mempunyai hubungan erat dengan ilmu-ilmu sosial lain seperti sosiologi dan antropologi bahkan juga dengan filsafat dan psikologi. Dalam analisis semantik harus juga disadari karena bahasa itu bersifat unik, dan mempunyai dan mempunyai hubungan yang sangat erat dengan budaya masyarakat dalam pemakaiannya maka analisis semantik suatu bahasa hanya berlaku untuk bahasa itu saja, tidak dapat digunakan untuk menganalisis bahasa lain.
Kesulitan lain dalam menganalisis makna adalah adanya kenyataan bahwa tidak selalu “yang menandai “ dan “yang ditantai” berhubungan satu lawan satu, artinya, setiap tanda linguistik hanya memiliki satu makna. Contohnya “Becak – ‘kendaraan umum tak bermotor beroda tiga’ Adakalanya hubungan itu berlaku sebagai satu lawan dua atau lebih, bisa juga sebagai dua atau lebih lawan satu. Contohnya “buku kitab” sama dengan “lembaran kertas bejilid”
Selain itu juga dalam bahasa yang penuturnya terdiri dari kelompok yang mewakili latar belakang budaya, pandangan hidup, dan status sosial yang berbeda, maka makna sebuah kata bisa menjadi berbeda atau memiliki nuansa makna yang berlainan.
Contoh kata babi dalam masyarakat Indonesia yang mayoritas islam memiliki makna yang berkonotasi negatif tetapi dalam masyarakat Indonesia yang nonislam memiliki konotasi makna yang netral atau berkonotasi positif.
Ada 4 syarat yang harus dipenuhi untuk mendeskripsikan semantik. Keempat syarat itu ialah (Pateda, 2010: 18).
1.    Teori itu harus dapat meramalkan makna setiap kesatuan yang muncul didasarkan pada satuan leksikal yang membentuk kalimat.
2.    Teori itu harus merupakan seperangkat kaidah.
3.    Teori itu harus dapat membedakan kalimat yang secara gramatikal benar dan yang tidak dilihat dari segi semantik.
4.    Teori tersebut dapat meramalkan makna yang berhubungan dengan antonim, kontradiksi, dan sinomim.

2.2    Jenis Semantik
Sudah di sebutkan bahwa yang menjadi objek studi semantik adalah makna bahasa. Lebih tepat lagi, makna dari satuan-satuan bahasa seperti kata, frase, klausa, kalimat, dan wacana. Kalau bahasa memiliki tataran-tataran analisis, yaitu fonologi, morfologi, dan sintaksis maka bagian-bagian mana dari tataran analisis itu yang mengandung masalah semantik, atau yang memilki persoalan makna (Chaer, 2009: 6). Semantik bahasa terdiri atas: (1) tata bahasa (gramatika), (2)  fonologi (fonemik), (3) fonetik, dan (4) Leksikon.
Adanya beberapa jenis semantik, yang dibedakan berdasarkan tataran atau bagian dari bahasa itu yang menjadi objek penyelidikannya. Kalau yang menjadi objek penyelidikannya adalah leksikon dari bahasa itu maka jenis semantiknya disebut semantik leksikal. Pada semantik leksikal ini makna yang ada pada leksem-leksem itu disebut leksikal. Leksem adalah istilah yang lazim digunakan dalam studi semantik untuk menyebut satuan bahasa yang bermakna. Istilah leksem ini dapat dipandang istilah kata yang lazim digunakan dalam studi morfologi dan sintaksis, dan yang lazim didefinisikan sebagai satuan gramatikal bebas terkecil.
Pada tataran fonetik yaitu bidang studi yang mempelajari bunyi (fon) tanpa memperhatikan fungsi bunyi sebagai pembeda makna, tidak ada semantik karena fon yang menjadi satuan dari fonetik tidak memiliki makna. Karena tidak ada objek studinya maka tentu tidak ada ilmunya. Pada tataran fonologi (fonemik) pun tidak ada semantik karena, walaupun fonem yang menjadi satuan dalam studi fonemik mempunyai fungsi untuk membedakan makna kata, tetapi fonem itu sendiri tidak bermakna (Chaer, 2009: 8).
Tataran bahasa (gramatika) dibagi menjadi dua subtataran yaitu morfologi dan sintaksis. Morfologi cabang dari linguistik yang mempelajari struktur intern kata, serta proses-proses pembentukannya, sedangkan sintaksis adalah studi yang mengenai hubungan kata dengan kata dalam membentuk satuan yang lebih besar, yaitu frase, klausa, kalimat. Oleh karena itu, pada tataran ada masalah-masalah semantik yaitu yang disebut semantik gramatikal karena objek studinya adalah makna-makna gramatikal dari tataran tersebut. Selain itu ada pula semantik sintaksikal penyelidikan yang berkaitan dengan sintaksis. Mengingat bahwa dalam sintaksis ada pula tataran bawahan yang disebut.
1.      Fungsi gramatikal
2.      Kategori gramatikal
3.      Peran gramatik   
Fungsi gramatikal berupa “kotak-kotak kosong” yang diberi nama subjek, predikat, objek dan keterangan, sebenarnya tidak ada maknanya sebab semuanya Cuma berupa kotak yang kosong. Yang memiliki makna adalah pengisi kotak-kotak itu yang berisi kategori gramatikal seperti nomina, verba atau adjektiva. Kategori-kategori ini yang sesungguhnya sudah memiliki makna leksikal kini pengisi kotak-kotak itu memiliki peran gramatikal seperti peran agentif, pasien, objek, benafaktif, lokatif, instrumental.
Semantik sintaktikal yang dibicarakan diatas masih berada dalam lingkup tata bahasa atau gramatikal. Tetapi disamping itu ada hal-hal yang merupakan masalah semantik, namun bukan masalah ketatabahasaan, misalnya soal topikalisasi kalimat (Chaer, 2009: 10)
2.3    Manfaat Semantik
Manfaat apa yang dapat kita petik dari studi semantik sangat tergantung dari bidang apa yang kita geluti dalam tugas kita sehari-hari. Pengetahuan semantik akan memudahkan dalam memilih dan menggunakan kata dengan makna yang tepat dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat umum.
Bagi mereka yang berkecimpung dalam penelitian bahasa, seperti mereka yang belajar di fakultas sastra, pengetahuan semantik akan banyak memberi bekal teoritis kepadanya untuk dapat menganalisis bahasa atau bahasa-bahasa yang sedang dipelajarinya. Sedangkan bagi seorang guru atau calon guru, pengetahuan mengenai semantik, akan member manfaat teoritis dan juga manfaat praktis. Manfaat teoritis karena dia sebagai guru bahasa harus pula mempelajari dengan sungguh-sungguh akan bahasa yang diajarinya. Sedangkan manfaat praktis akan diperolenya berupa kemudahan bagi dirinya dalam mengajarkan bahasa itu kepada murid-muridnya. Seorang guru bahasa, selain harus memiliki pengetahuan dan keterampilan yang luas mengenai segala aspek bahasa, juga harus memiliki pengetahuan teori semantik secara memadai. Tanpa pengetahuan ini dia tidak akan dapat dengan tepat menjelaskan perbedaan dan persamaan semantik antara dua buah bentuk kata, serta bagaimana menggunakan kedua bentuk kata yang mirip itu dengan benar.
Selain itu, semantik juga bermanfaat bagi orang awam atau bagi orang-orang kebanyakan pada umumnya, pengetahuan yang luas akan teori semantik tidak kala diperlukan. Tetapi pemakaian dasar-dasar semantik tentunya masih diperlukan untuk dapat memahami dunia disekelilingnya yang penuh dengan informasi dan lalu lintas kebahasaan. Semua informasi yang ada disekelilingnya, dan yang juga harus mereka serap, berlangsung melalui bahasa, melalui dunia lingual. Sebagai manusia bermasyarakat tidak mungkin mereka bisa hidup tanpa memahami alam sekeliling mereka yang berlangsung melalui bahasa.
2.4    Ruang Lingkup Semantik
Seperti dinyatakan bahwa semantik mencakup bidang yang sangat luas, baik dari struktur dan fungsi bahasa maupun dari segi interdisiplin bidang ilmu (Fatimah, 2009: 4). Tetapi dalam hal ini ruang lingkup semantik terbatas pada hubungan ilmu makna itu sendiri dibidang linguistik. Faktor nonlingistik ikut mempengaruhi semantik sebagai fungsi bahasa non simbolik. Semantik adalah studi suatu pembeda bahasa dengan hubungan proses mental atau simbolisme dalam aktivitas bicara (Tarigan, 2004: 5).
Hubungan bahasa dengan proses mental dapat dinyatakan dengan beberapa cara. Beberapa pakar proses mental tidak perlu dipelajari karena membingungkan, sebagian lagi menyatakan bahwa proses mental harus dipelajari secara terpisah dari semantik, atau semantik dipelajari tanpa menyinggung proses mental. Dalam kenyataannya, semantik atau makna berkaitan erat dengan struktur dan fungsi. Artinya struktur tanpa makna dan manka tanpa struktur tidak mungkin ada. Jadi bentuk atau struktur, fungsi dan makna merupakan satu kesatuan dalam meneliti atau mengkaji unsur-unsur bahasa.
Dari adanya sejumlah tataran dan kompleksitas dapat dimaklumi bahwa meskipun makna dan lambang serta aspek semantik dan tata bahasa merupakan unsur-unsur yang tidak dapat dipisah-pisahkan, dalam menentukan hubungan semantik dan linguistik masih terdapat sejumlah perbedaan. Ada pengkaji yang lebih senang menyebut semantik dengan teori makna dan langsung memasukkannya kedalam bidang filsafat bahasa (Aminuddin, 2001: 27). Pada sisi lain ada juga pengkaji yang beranggapan bahwa selama dalam abstraksi dan proses relasi dan kombinasi, makna masih merupakan sesuatu yang abstrak sehingga kajian empiris dan hasil studi yang saintifik tidak mungkin dapat dilaksanakan dan dicapai.

  1. SIMPULAN
Dari pembahasan makalah di atas tentang Pengertian Semantik, Jenis Semantik, Manfaat Semantik Dan Ruang Lingkup Semantik dapat di ambil kesimpulan bahwa kata semantik yang digunakan untuk bidang linguistik yang mempelajari hubungan antara tanda-tanda linguistik dengan hal-hal yang di tandainya atau dengan kata lain bidang studi yang mempelajari makna atau arti dalam bahasa. Oleh karena itu kata semantik dapat diartikan sebagai ilmu tentang makna atau arti. Semantik bahasa terdiri atas:
1.    Tata bahasa (gramatika)
2.    Fonologi (fonemik)
3.    Fonetik
4.    Leksikon
Pengetahuan semantik akan memudahkan dalam memilih dan menggunakan kata dengan makna yang tepat dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat umum.

DAFTAR PUSTAKA
Aminuddin. 2001. Semantik Pengantar Studi Tentang Makna. Bandung: Sinar Baru Algensindo.
Chaer, Abdul. 2006. Bahasa Indonesia dalam Masyarakat: Telaah Semantik. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Chaer, Abdul. 2007. Leksikologi dan Leksikografi Indonesia. Jakarta: PT Rineka Cipta
Chaer, Abdul. 2009. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.
Djajasudarman, T Fatimah. 2009. Semantik 1 makna leksikal dan Gramatikal. Bandung: PT Refika Aditama.
Parera, J.D. 2004. Teori Semantik. Jakarta: Erlangga.
Pateda, Mansoer. 2010. Semantik Leksikal. Jakarta: Rineka Cipta.
Tarigan, Henry Guntur. 2011. Pengajaran Kosakata. Bandung: Angkasa.
Ullmann, Stephen. 2007. Pengantar Semantik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Verhaar. 2008. Asas-Asas linguistik Umum. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar