Rabu, 07 Mei 2014

CiDaHa (Cinta Dalam Hati)



 “Pagi ini sangat cerah” (sambil membuka jendela kamar), ujarku dalam hati. Mimpi semalam membuatku gembira. Aku memimpikan seseorang yang selama ini aku kagumi.
Jam sudah menunjukkan pukul 05.45. Tidak biasanya aku bangun sepagi ini. Pasti akibat dari mimpi semalam. Hehehehe….
Aku bergegas menuju ke kamar mandi, lalu memakai baju dan bergegas sarapan.
“Dendi… ayo cepat sarapan nanti kamu telat”, Ujar Mama sambil menyiapkan sarapan kesukaanku, nasi goreng telur dadar.
“Iya maaaa…” Aku langsung menyantap sepiring nasi goreng telur dadar.
“Ma aku pegi dlu yah, Assalamualaikum”.
“Hati-hati Dendi, belajar yang rajin di sekolah ya Nak”.
Tenang aja ma, anakmu ini pinter kok di sekolah, hihihi… (sambil ngegas motornya lalu pergi ke sekolah).
Hari ini aku seperti mendapat semangat yang baru. Semangat untuk segera sampai ke sekolah.
 Walaupun hari ini kami lagi class meeting tetapi Pukul setengah tujuh pagi anak-anak udah rame berdatangan. Mereka masuk gerbang dengan kendaraan sendiri-sendiri. Ada yang naik motor gede, motor bebek, matic. Yang naik sepeda juga ada, termasuk yang jalan kaki juga. Aku jalan ke gerbang sekolah menunggu pujaan hati. Rencananya mau ngajak ngobrol macem-macem. Bisa bicara sama dia aja udah seneng apalagi kalo dapet lebih. hihihihi
Aku memperhatikan  wajah mereka satu persatu dari pintu gerbang. Mencari wajah cewek hitam manis berambut panjang dan berponi.
Aku harus bisa ungkapin ke dia.  Sekarang aku harus bilang ke dia sebelum terlambat. Demi Juwita.” Ujar Dandi.
Ahh… itu dia ujar Dandi. Cewek dengan gaya yang girly ini memakai seragam kotak-kotak biru. Dia duduk di boncengan motor cowok. Yang bawa motor memakai jaket abu-abu parasut pake helm nutupin muka. Dendi dengan sigap mengenali wajah cewek itu. Tinggal yang bonceng.
 “ siapa itu?”
Dendi nyusul Juwita ke tempat parkir lalu bersembunyi di balik pohon. Di sana aku memperhatikan mereka. Juwita menemani laki-laki pemakai helm itu. Laki-laki itu melepas helmnya menunjukkan wajah putih dengan senyum lesung pipi. Tubuhnya tinggi gagah. Dia charming kayak pangeran di negeri dongeng.
“Lana? Kenapa Lana dan Juwita? Apa hubungan mereka? Aku harus tanya mereka!”
Dendi kepergok Evan yang sedang ngintip Lana dan Juwita di parkiran.
“Heii….., hayo ngapain disini, pake acara sembunyi lagi”.
“stttssssss, jgn berisik, nanti ketahuan mereka kalo aku sedang ngintip kelakuan mereka disini”.
Lalu Andre nimbrung pembicaraan mereka yang lagi sembunyi di balik pohon. Tanpa pikir panjang Andre menjawab, “Lana itu cowoknya Juwita.”
“ What? Lana cowoknya Juwita? Kok kalian berdua gak bilang sih?” Ujar Dendi.
“ masak kamu gak tahu? Ke mana aja sih kamu?” ujar Evan.
 Jadi kalian selama ini udah tahu? Dan kalian selama ini nggak ngasih tau aku? Kalian sengaja mempermainkan aku gitu? Kalian bener-bener brengsek!” Dendi langsung pergi menuju kelas.
“Den, tunggu den. Jangan ngambek donk”. Evan dan Andre menyusul Dendi ke kelas.
Pagi yang cerah ini mendadak asaku jadi kelabu pekat. Pahit. Rasanya  hati ini seperti di sambar petir. Terbakar. Harapan yang telah ku ukir selama ini seketika hilang entah kemana.
Cinta yang selama ini aku pendam dan ingin ku utarakan ini pupus. Udah ada pemenangnya. Aku  tak mungkin bisa menjadi pemenang untuk merebutkan Juwita. Lana itu perfect. Cakep, kaya, pinter, macho, populer, gaul, baik lagi. Dia juga perhatian.
Sedangkan aku? Jelek, item, bego, kuper lagi. Mana ada cewek yang mau sama aku!”
Andre dan Evan datang menemui Dendi di dalam kelas.
Den, kita mau minta maaf. Kita gak ngasih tau bukan mau negbohongi kamu. Kita enggak mau kamu kecewa, harapan kamu pupus,. Sementara kamu lagi menikmati rasa indahnya jatuh cinta.  Setidaknya kamu jadi happy.” Kata Andre.
Tapi dengan kayak gini bikin lebih sakit!” bantah Dendi.” Nyesel aku udah bela-belain tiap minggu ke rumahnya, mikirin dia, kangen dia, berhrapa lebih kalo akhirnya aku kecewa dengan harapan sendiri.”
Tenang aja, bro. Masih ada banyak cewek cantik lain di sekolah ini.” Hibur Evan.
Lagian kamu si Den kuper amat sih!,  Sama temen sendiri gak tau, apalagi kalo mereka jadian!” celetuk Andre.
“ sstssssss!” desis Evan.
“gak papa,Den. Sabar aja. Selagi janur kuning belum melengkung., pasti masih ada harapan kok. Masih banyak juga cewek lain emangnya si Juwita aja apa di dunia ini.” Evan merangkul Dendi sambil cengegesan. Dendi ikut tersenyum dengan terpaksa.
jadi sekarang gimana?” tanya Dendi .
“ gimana apa maksudnya?” tanya Andre.
Harapan dan semua ang aku lakuin selama ini sia-sia. Sekarang jadi gak berarti lagi.”Aku Cuma pingin pulang dulu sekarang. Aku pingin tenang dulu. Makasih buat supportnya. Aku duluan ya”
Dendi berjalan dengan lunglay, mengingat kejadian di parkiran tadi. Mengingat Lana dan Juwita. “What, mereka jadian. Ya memang tidak di pungkiri mereka pasangan yang perfect, cocok. Ahhhh…sudahlah..
Dendi pulang dengan hati antara hitam dan abu-abu. Kata-kata teman tadi lumayan bikin tenang dan menghibur. Tapi mikirin Juwita, Lana, kebersamaan mereka bener-bener bikin sedih, marah, sebel, semua jadi satu. Tapi tubuh ini cuma lemah tak punya apa-apa. Tak punya tenaga apa-apa.
Sesampai dirumah Dendi langsung menuju kamar dan menghempaskan tubuhnya di atas kasur.
Aku ingin Juwita jadi pacarku. Dia perfect sekali. Gak ada yang sama kayak dia. Aku sayang dia ya tuhan Tapi  kenapa dia udah ada yang punya“.
“Aku ingin Juwita tau, aku cinta dia. Ku ingin dia mencintai Aku seperti Aku mencintai dia”.
Sambil memutar playlist lagu Ungu Cinta Dalam Hati, dengan sayup-sayup suara music. Perlahan Dendi meneteskan air mata.
Mungkin ini memang jalan takdirku
Mengagumi tanpa di cintai
Tak mengapa bagiku asal kau pun bahagia
Dengan hidupmu, dengan hidupmu

Telah lama kupendam perasaan itu
Menunggu hatimu menyambut diriku
Tak mengapa bagiku cintaimu pun adalah
Bahagia untukku, bahagia untukku

Ku ingin kau tahu diriku di sini menanti dirimu
Meski ku tunggu hingga ujung waktuku
Dan berharap rasa ini kan abadi untuk selamanya
Dan ijinkan aku memeluk dirimu kali ini saja
Tuk ucapkan selamat tinggal untuk selamanya
Dan biarkan rasa ini bahagia untuk sekejab saja

Lirik lagu itu mengabur dalam gelap bersama kesadaran yang mulai lenyap.

-Selesai-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar