Rabu, 07 Mei 2014

KASIH SAYANG SEORANG KAKAK PADA ADIKNYA



Keteduhan memang masih ada dikampung yang jauh dari hingar bingarnya budaya perkotaan. Polusi udara belum menyentuhnya, walaupun televisi sudah mulai mempengaruhi gaya hidup anak anak muda.
Adalah dua kakak beradik yang hidup dalam keluarga yang pas-pasan, bahkan lebih banyak kekurangannya. Tidak jarang kedua kakak-beradik ini saling mengalah. Kalau hari ini kakaknya mengalah tidak mendapat jatah, besok adiknya yang mengalah demi kakaknya. Tidak ada iri hati dan juga tidak ada kebencian. Kebahagian adik adalah kebahagian kakak.

Hari itu mereka berdua bermain bersama. Tidak sengaja, kakaknya menyenggol kacamata ayahnya yang ditaruh di atas meja, terjatuh dan...
“prak”, pecah.

Keduanya saling pandang, bungkam dan berpelukan, tidak ada kata tuduhan dan tidak ada kalimat saling menyalahkan. Mereka kompak, diam dan tidak memberitahukan kepada ayahnya.

Ayahnya masuk dan mendapatkan kacamatanya sudah pecah. Ayah yakin salah satu di antara kedua anaknya yang menjatuhkannya. Keduanya hanya membisu saat ditanya.

“Ayu. Kamu yang menjatuhkan kacamata ayah?”, pertanyaan ayah kepada anak pertama. Ayu diam menunduk, mengarahkan pandangan matanya ke lantai dengan ketakutan.

“Rahma. Kamu yang menjatuhkan kacamata ayah?”, giliran pertanyaan diajukan kepada adiknya. Rahma pun diam, menunduk dan mengigit bibirnya.

“Kacamata ini tidak mungkin jatuh sendiri tanpa ada yang menjatuhkan. Kalau tidak ada yang mengaku, semua akan ayah hukum lebih berat”, ayahnya mengancam supaya ada yang mengaku. Mereka berdua sadar, meskipun mengaku tetap akan dihukum, karena sudah tahu kebiasaan ayahnya.

Mendengar ancaman ayahnya, Rahma langsung angkat bicara.
“Maafkan Rahma ayah, Rahma yang menjatuhkan”.

Rahma mengambil alih tanggung jawab kakaknya demi cinta dan kasih sayang. Dia tahu konsenkuensi apa yang akan diterima dari ayahnya.

“Buka tanganny, maju ke mari...!”, perintah ayahnya yang sudah siap memegang pecahan bambu. Dan... “Bug... bug... bug...” kayu itu mendarat bertubi tubi di kedua telapak tangan Rahma. Mata Rahma meneteskan air mata mulutnya merintih rintih menahan sakit.

Ayu tidak tahan melihat ayahnya memukuli adiknya. Dia hanya bisa menahan tangis dan lari ke kamarnya. Di dalam kamar, ia tumpahkan tangisnya. Ada rasa bersalah yang tak mungkin dimaafkan oleh adiknya. Ada sesal yang tak mungkin bisa dikembalikan. Mengapa harus adiknya menanggung, padahal dirinya yang melakukan. Dia merasa telah berbuat kesalahan dan mementingkan diri sendiri. Seharusnya, seorang kakak melindungi adiknya, tapi kenapa justru adik yang menyelamatkna kakaknya dan terpaksa mengambil alih tanggung jawab kakaknya.

Sejak saat itulah, Ayu berjanji pada dirinya sendiri akan berbuat apa saja untuk adiknya agar kelak menjadi orang yang sukses, berhasil, mengangkat harkat dan martabat orang tuanya, dibanggakan oleh seluruh keluarganya.

Waktu terus berjalan. Kedua kakak dan adik telah lulus SMP. Keduanya berhasil mendapatkan NEM yang mambanggakan sekolahnya, 48.
Seharusnya mereka berdua diterima di SMA yang menjadi idaman semua siswa. Ayah dan ibunya merasa gembira, anaknya lulus SMP. Tetapi kegembiraan itu pupussetelah menyadari betapa tingginya biaya pendidikan. Bagaimana bisa menyekolahkan kedua anaknya, sementara perekonomian keluarga lebih banyak kurangnya daripada pasnya. Lagi lagi kedua kakak beradik itu diuji kebersamaan dan rasa kasih sayangnya.
Mulanya sang adik bersihkeras mengalah demi kakaknya, agar dapat melanjutkan ke SMA. Dia memilih tidak meneruskan sekolah, membantu orang tua memperkuat perekonomian, agar kakaknya bisa sekolah. Tetapi kakaknya sudah bersumpah dan berjanji, demi adiknya apapun akan dilakukan. Rahma harus sekolah.

Kini Rahma sudah duduk di bangku SMA. Biaya pendidikan bisa ditanggungi, apalagi Ayu ikut berkerja menghidupkan keluarga ini. Masalahnya, sesudah tamat sekolah, Rahma harus melanjutkan ke Perguruan Tinggi. Masih mampukah keluarga ini membiayai pendidikan Rahma sampai tingkat selanjutnya.

“Mbak Ayu, Rahma sekolahnya sampai SMA saja ya?”, Rahma menyampaikan keinginan itu kepada kakaknya. Dia cukup memaklumi kondisi keluarga. Tetapi Ayu tidak menanggapinya, justru memberikan motivasi dan mendorongnya untuk terus bisa melanjutkan sekolahnya.

“Rahma, kamu harus terus bisa kuliah. Mbak akan berkerja ke kota agar kamu bisa terus kuliah. Biar Mbak yang mencari biaya pendidikan kamu”. Ayu meyakinkan adiknya agar kelak menjadi orang hebat.

Ternyata mencari kerja di kota tidak mudah. Apalah arti ijazah SMP, paling paling menjadi pembantu rumah tangga, atau pelayan toko. Itu pun harus punya koneksi. Masuk penampungan Yayasan Penyedia PRT atau Baby sitter, harus nanti diberikan kepada pengelola penampungan, atau tiga bulan gaji untuk yayasan. Cukup lama Ayu mondar mandir, pindah kerja dari satu kerja ke tempat kerja lain hanya karena gajinya terlalu kecil.
Sedangkan dia sudah punya komitmen membiayai kuliah adiknya.

Lelah sudah usahanya untuk mengais rezeki. Dalam kelelahan itu dia bertemu dengan seorang yang menawarkan pekerjaan dengan gaji yang cukup besar. Tanpa berfikir panjang, tawaran itu diterima. Dan mulailah ia berkerja.
Sungguh tak pernah terfikir dan tak pernah dibayangkan, ternyata pekerjaan yang harus dilakukannya adalah menemani laki laki hidung belang.
Apa mau dikata, terlanjur basah ya sudah mandi sekalian. Cita citanya hanya satu yaitu membiayai kuliah adiknya.

Inilah sisi kehidupan kota. Wajah wajah seperti Ayu terbilang jumlahnya. Motif dan latar belakang sangat bervariasi dan berbeda beda. Ayu harus berkerja, tidak ada pilihan lain. Dia tersenyum disaat orang orang tersenyum, disaat orang orang tersenyum, padahal batinnya menjerit. Dia harus tampil all out, padahal hatinya hanya untuk adiknya. Dia harus mampu mengairahkan, padahal tidak mempunyai semangat, kecuali bagaimana cara mendapatkan uang. Yang paling membuatnya “terpukul” adalah kata hatinya yang bertentangan dengan kenyataan. Dia harus berbohong kepada kedua orang tuanya. Dia harus berbohong kepada adiknya, dia harus berbohong kepada dirinya sendiri. Mereka semua tidak pernah tahu apa sebenarnya pekerjaan Ayu, selain hanya mendapat jawaban kerja di hotel.

Perjalanan Ayu cukup panjang, dari satu meja ke meja lain, dari kamar ke kamar, dari satu pelukan ke pelukan lain. Pernah ayu mencoba untuk berhenti, tetapi cita citanya mengalahkan kata hatinya. Pernah juga Ayu datang kepada seorang yang memiliki ilmu agama yang kuat, tetapi hanya mendapat nasihat supaya berhenti dari pekerjaannya tanpa memberikan solusi pekerjaan apa yang bisa mendatangkan rezeki.
Ayu sadar apa yang dia lakukan adalah dosa besar. Maka itu di sela sela kesibukannya sebagai pramusyahwat. Ayu masih melaksanakan ibadahnya dan berdoa menangis kepada Tuhan Yang Maha Esa.
“Tuhan adakah yang aku kerjakan ini masih mendapat bagian dari pahala?Tuhan aku mohon Engkau memberikan jawaban, siapakah yang lebih mulia di antara orang yang melacur demi mendapatkan kemuliaan-MU, ataukah orang yang merampok, korupsi dan menggarong uang negara untuk melacur? Tuhan, beri aku kesempatan untuk bertobat setelah selesai tugasku memuliakan keluarga.”

Tidak sia sia perjuangan Ayu. Rahma telah mampu menempuh pendidikannya dengan tepat waktu, berhasil mendapatkan gelar sarjana. Tidak tanggung tanggung, Rahma menjadi mahasiswi teladan, dan mendapat penghargaan.

Rahma tak kuasa menahan tangis ketika disebut namanya, disaat wisuda, di saat profesor menyerahkan gulungan kertas. Air matanya terus mengalir dan dadanya sesak menahan keharuan. Segera dia berlari meninggalkan panggung kehormatan mencari Ayu, kakaknya, di antara kerumunan orang banyak.

Semua perhatian orang tertuju kepadanya, ada keheranan, karena upacara belum selesai. Ada yang ikut berlari dibelakangnya, khawatir terjadi sesuatu. Ayu ditemukan duduk di deretan paling belakang, lalu dipeluk dan dicium bertubi tubi. Keduanya terlibat dalam keharuan, tak bisa berkata kata, selain isak tangis dan sesenggukan. Orang bertanya tanya.

Di situlah, Rahma menyatakan bahwa keberhasilannya adalah milik Ayu, kakaknya. Tidaklah sebanding pengorbanan kakaknya dengan secarik kertas sertifikat IJAZAH yang diterima. Terlalu tinggi nilai nilai kasih sayang dan persaudaraan seorang kakak kepada adiknya.

Ayu merasakan beban berat telah lepas dari pundaknya. Ayunan langkahnya terasa ringan. Sumpah dan janjinya telah dibuktikan. Tanggung jawabnya telah diselesaikan. Ayu kembali bersama Rahma, kembali ke rumah, kembali kepada fitrahnya meninggalkan semua kehidupan suram yang bertentangan dengan nuraninya.
Tidak ada yang terpikirkan lagi kecuali sampai di rumah lalu langsung mengelar sajadah, sujud mohon ampun kepada Tuhan.
Sesungguhnya Allah Maha Pemurah, Maha Penyayang, Maha Pengampun dan menerima taubat.

Kasih sayang seorang kakak yang sungguh besarnya kepada adik yang ia cintai. Hanya karena kesalahan seorang kakak dimasa kecil yang di tanggung oleh adiknya guna melindungi kakak yang ia sayangi.Cinta seorang kakak kepada adiknya hingga rela menyuramkan masa depannya demi adik dalam meneruskan pendidikan dengan cara menjajahkan tubuhnya memuaskan nafsu bejad laki laki hidung belang.

KASIH SEORANG IBU




Ada sebuah peristiwa yang terjadi pada sebuah desa kecil, suatu ketika ada seorang ibu yang penuh kasih pergi ke kota besar, setelah kembali ke rumah dirinya berubah total dari sebelumnya. Semula ibu ini sangat mengasihi puterinya, tak peduli seberapa larut pun anaknya pulang rumah, dia akan menunggu untuk membuatkan makanan enak dan diantarkan ke hadapan anaknya.

Akan tetapi sejak pulang dari kota besar, sang ibu berubah dan tidak mau lagi mengurus anaknya, biar pun anaknya pulang sangat larut malam, sang ibu tidak pernah mengindahkannya, bahkan tidak memasak lagi di rumah. Ketika sang anak merasa lapar dan memberitahukan pada sang ibu, dia hanya menjawab dengan nada dingin: “Kamu sudah besar, apakah masih belum bisa masak sendiri?”

Dari itu, sang anak berpikir bahwa sang ibu tidak sayang padanya lagi, lalu timbul perasaan tidak senang dan benci pada sang ibu, dia mulai mencuci pakaian sendiri, menata kamar sendiri, saat lapar memasak sendiri, semua urusan harus dikerjakan sendiri, sebab biar pun dirinya merasa lelah, haus, lapar atau mengantuk, sang ibu tidak pernah memperdulikannya. Dalam hati dia beranggapan kalau sang ibu sudah tiada.

Tak seberapa lama kemudian, sang ibu pun meninggal dunia, selama selang waktu ini, sang anak sudah jauh hubungannya dengan sang ibu, bahkan bersikap dingin dan seakan bermusuhan, sehingga kematian ibunya tidak membawa dampak kesedihan sama sekali pada dirinya.

Selanjutnya ayahnya kimpoi kembali, setelah ibu tirinya tinggal di rumah mereka, dia merasa ibu tirinya sangat baik padanya, paling tidak masih menyisakan sedikit lauk dan nasi baginya, setelah lelah seharian tidak perlu memasak sendiri, jadi hubungan dengan ibu tirinya masih terhitung cukup harmonis.

Sang anak belajar dengan keras dan akhirnya berhasil dalam ujian masuk perguruan tinggi. Akan tetapi dikarenakan kondisi ekonomi keluarga tidak baik, maka dia tidak ada dana untuk membayar uang kuliah, ketika sedang diliputi kecemasan, ayahnya menyerahkan sebuah kotak kecil kepadanya dan memberitahukan kalau sebelum ibunya meninggal dunia ada berpesan agar pada saat menemui kondisi paling sulit, baru boleh menyerahkan kotak ini kepadanya.

Sang anak menerima kotak ini dari ayahnya, ketika dibuka ternyata di dalamnya ada setumpuk uang dengan selembar surat di sampingnya.

Dalam surat tersebut tertulis pesan ibunya:

Anakku, kali itu ketika ibu pergi ke kota, sebetulnya ibu pergi memeriksakan kesehatan tubuh, setelah dilakukan pemeriksaan, barulah ibu tahu kalau ibu terkena kanker dan sudah stadium akhir, saat itu ibu hampir-hampir tidak bisa berdiri lagi. Ibu bukan khawatir akan diri ibu, akan tetapi ibu khawatir akan dirimu. Ibu berpikir jika ibu sudah tiada, bagaimana dengan dirimu nanti? Kamu masih kecil, bagaimana kamu bisa melanjutkan hidup? Bagaimana menghadapi masa depanmu?

Dari itu, sepulangnya ibu ke rumah, ibu bersikap dingin kepadamu dan ingin kamu mengerjakan sendiri semuanya, juga tidak peduli lagi padamu agar kamu membenci ibu, dengan demikian sesudah ibu sudah tidak ada di dunia ini lagi nanti, kamu tidak akan diliputi dengan kesedihan.

Anakku, walau ibu tidak pernah bertanya padamu, namun di dalam hati ibu sebetulnya tetap mengkhawatirkan dirimu, setiap kali kamu pulang larut malam, walau ibu tidak membuka pintu untuk melihat dirimu, namun ibu tetap menunggumu pulang.

Ketika kamu pulang dengan tubuh lelah dan perut lapar, ibu membiarkanmu masak sendiri, sebab ibu berharap sesudah ibu tiada nanti, kamu bisa menjaga diri. Dulu ibu mengerjakan semuanya untukmu, namun sesudah ibu tiada nanti, siapa lagi yang akan menjagamu? Segala sesuatu di kemudian hari harus bergantung pada dirimu sendiri.

Ibu berlaku buruk padamu, bahkan tidak memasakkan nasi untukmu dan semua pekerjaan harus kamu lakukan sendiri, maka dengan demikian ketika nanti ayahmu kimpoi kembali, kamu akan berpikir bahwa ibu baru akan lebih baik dari ibu, sehingga kalian akan dapat berhubungan dengan baik dan hari-harimu akan lebih mudah dilalui.

Dalam kotak ini ada uang 5000 dolar yang diberikan nenek kepada ibu, sebetulnya ini adalah uang berobat ibu, namun ibu tidak rela menggunakannya, ibu tinggalkan untuk mu dengan harapan ketika nanti kamu masuk perguruan tinggi dan membutuhkan uang, kamu dapat menggunakannya. Sekarang, ibu meminta bantuan ayah untuk menyampaikannya kepadamu.

Air mata segera mengaburkan mata sang anak, juga mengaburkan sepasang mata kita yang membaca kisah ini, kasih ibu terhadap anak sungguh tanpa pamrih dan penuh akal budi, mana mungkin ada ibu yang tidak mengasihi anaknya?

Ketika dia harus menahan perhatian dan kasih dalam hatinya kepada anak, harus berusaha keras untuk memperlihatkan wajah dingin kepada anaknya, saya sungguh sulit membayangkan, betapa menderitanya perasaan ibu ketika itu, namun demi perkembangan anak yang lebih baik dan kehidupan anak yang lebih berbahagia di masa mendatang, ibu rela menerima segala kesedihan, bahkan tidak menyesal untuk membiarkan sang anak salah paham terhadapnya.

Namun apakah sebagai anak, kita mau memahami isi hati ibu?

Teringat pernah sekali, di dalam sebuah lift bertemu dengan seorang anak, ketika ibunya dengan sabar membimbingnya, anak ini terlihat tidak sabaran dan mengeluhkan kalau ibunya cerewet, bahkan marah-marah dan meminta ibunya agar tutup mulut. Ibunya juga marah, namun tetap menahan diri dengan terus meminum air mineral di tangannya, pada saat ini sang anak sama sekali tidak sadar akan betapa sedihnya hati ibunya.

Cinta kasih harus dirasakan dengan kesungguhan hati, ketika kita membantah ayah dan ibu kita, mengapa kita tidak menyadari kalau sepatah perkataan penuh emosi kita telah pun menyebabkan luka mendalam di dalam hati ayah dan ibu. Ketika ayah dan ibu sedang memberi bimbingan kepada kita, apakah kita dapat menyadari betapa besarnya hati kasih orangtua kepada anak? Atau kita menganggap ayah dan ibu tidak senang melihat kita dan selalu mencari masalah pada diri kita.

Ketika ibu memukul dan memarahi kita, apakah itu benar-benar disebabkan karena ibu tidak menyukai kita?

Pernah mendengar seorang ibu berkata demikian: Anak-anak tersayang, tidak semua ibu dapat berbuat seperti yang kalian harapkan, kalian semestinya mau mengerti akan tindakan ibu kalian dan jangan pernah menyalahkannya. Saya percaya, ibu kalian dan termasuk ayah kalian akan mencintai kalian selama-lamanya, tak peduli metode apa yang dipergunakan, mereka akan tetap berdiri di sisi kalian untuk selama-lamanya, tetap berharap kalian agar kalian cepat tumbuh dewasa dan nantinya dapat berbuat lebih banyak bagi negara dan masyarakat.

Benar sekali, ibu selalu mengasihi kita, mengapa kita masih saja meragukannya?

Apakah kita tahu kalau di mata ibu, kita selama-lamanya adalah anak-anak, biar pun kita telah berusia 80 tahun dan punya banyak anak cucu, ibu kita tetap mengkhawatirkan diri kita: apakah pakaian yang dikenakan sudah cukup hangat, apakah di malam hari tubuh ada ditutup selimut dengan baik, apakah ada makan kenyang, dan seterusnya.

Kasih ibu adalah sedemikian besar dan tanpa pamrih, bagaikan sumber air yang terus mengalir deras tanpa pernah berhenti. Akan tetapi, bilakah kita sebagai anak dapat benar-benar memahami akan isi hati ibu?

Pernah ada orang yang mengumpamakan kasih ibu bagaikan tanaman bunga di tepi jalan, tiada orang yang peduli, tiada orang yang merawat, tiada orang yang memberi perhatian, namun tak peduli dalam cuaca bertopan, hujan deras atau hawa dingin membeku, asalkan ada sedikit sinar mentari dan embun hujan, dia akan tetap tumbuh dan berbunga lebat.

Jangan lagi mengenyampingkan tali kasih ini, kasih ibu tiada pamrih dan kita perlu secepatnya memahaminya dengan sepenuh hati, merasakannya dengan sepenuh hati dan membalas budi luhurnya dengan sepenuh hati.

“Pohon ingin tetap tenang, namun angin terus berhembus; anak ingin berbakti, namun orangtua sudah tiada”, pastikan penyesalan seperti ini jangan sampai terjadi dalam kehidupan kita ini. Kita harus tahu bahwa ketika kita membuka pintu rumah dan memanggil “Ibu”, masih ada orang orang yang menyahut adalah suatu hal yang sangat membahagiakan. Dari itu, marilah kita menghargai kasih sayang termurni dan paling sulit diperoleh di dunia ini, kita juga harus membalas budi luhur ibu dengan cinta kasih kita yang paling tulus.

PROSES PENAMAAN



Pembahasan
A. Proses Penamaan
Nama merupakan kata-kata yang menjadi label pada setiap makhluk, benda, aktifitas, dan peristiwa di dunia ini, Nama-nama ini muncul akibat dari kehidupan manusia yang kompleks dan beragam, alam sekitar manusia berjenis-jenis. Kadang-kadang manusia sulit memberikan label satu per satu, oleh karna itu muncul nama-nama kelompok, misalnya binatang, burung, ikan, dan sebagainya, dan tumbuh-tumbuhan tak terhitung jumlah jenis, binatang, jenis burung, dan jenis tumbuhan yang ada di dunia ini. Di dalam kehidupan sehari-hari ada kata yang mudah dihubungkan dengan bendanya, ada pula yang sulit dan tidak mengacu pada benda nyata (konkret), lebih mengacu kepada pengertian. Misalnya: demokrasi, korupsi, partisipasi, deskripsi, argumentasi, dan lain-lain. Dalam kata-kata tersebut, kita mengerti (paham kata tersebut) tetapi wujudnya tidak dapatdihayati secara nyata. Kata-kata yang tidak dapat dihayati wujudnya tersebut berbeda dengan kata-kata yang dapat dihayati wujudnya, misalnya; kursi, meja, gunung (Djajasudarma, 2009 : 47).
Sedangkan nama tertentu yang bersifat khusus untuk setiap bidang ilmu, disebut dengan istilah. Istilah adalah nama tertentu yang yang bersifat khusus atau suatu nama yang berisi kata atau gabungan kata yang cermat, mengungkapkan makna, konsep, proses, keadaan, atau sifat yang khas di bidang tartentu. Manusia dalam interaksinya menggunakan bahasa.Sebagai gejala budaya, bahasa bersifat dinamis, bahasa tumbuh dan berkembang sejalan dengan meningkatnya kemajemukan persepsi manusia terhadap makrokosmos (dunia sekitarnya) dan mikrokosmos (dunia pribadinya) (Djajasudarma, 2009 : 49).
Dalam pembicaraan mengenai hakikat bahasa dapat dikatakan bahwa bahasa adalah sistem lambang bunyi yang bersifat arbitrer.Maksudnya, antara satu satuan bahasa, sebagai lambang misalnya kata, dengan suatu benda atau hal yang dilambangkannya bersifat sewenang-wenang tidak ada hubungan “wajib” diantara keduanya.Umpamanya antara kata < kuda > dengan benda yang diacunya yaitu seekor binatang yang bisa dikendarai atau dipakai menarik pedati, tidak bisa dijelaskan sama sekali. Lagipula andai kata ada hubunganya antara lambang dengan yang dilambangkannya yaitu, tentu orang jawa tidak akan menyebutnya < jaran>, orang inggris tidak akan menyebutnya < horse > , dan orang belanda tidak akan menyebutnya < paard >. Tentu mereka semua akan meyebutnya juga < kuda >, sama dengan orang Indonesia(Chaer, 2009 : 43).
Telah dikatakan bahwa bahasa adalah sistem tanda yang digunakan untuk berkomunikasi.Tanda yang dimaksud di sini berupa lambang. Lambang dalam bahasa berisi dua, yakni bentuk (expression, signifier), dan makna (contents, signified). Salah satu pendapat tertua yang dikemukakan oleh plato di dalam suatu percakapan yang berjudul cratylus atau cratylos, lambang adalah kata di dalam suatu bahasa, sedangkan makna adalah objek yang kita hayati di dunia nyata berupa acuan yang ditunjukan oleh lambang tersebut. Karena itu, kata-kata dapat dikatakan sebagai nama, label setiap benda, aktivitas atau peristiwa. Tidak heran apabila seorang anak mengenal bahasa dari proses belajar nama-nama tersebut. Kadang-kadang anak manamai sesuatu melewati bunyi yang di dengarnya dari ayah dan ibunya. Kita akan mendengar bunyi “da…da…da..”kalau si anak melihat ayah dan ibunya ketika menghampirinya atau untuk menyebut benda-benda yang ia lihat yang terdapat di dalam sebuah buku. Karena hidup manusia beraneka ragam dan alam sekeliling manusia berjenis-jenis, maka manusia sulit memberikan label-label terhadap benda yang ada di sekelilingnya. Dengan demikian lahirlah nama kelompok, misalnya binatang, buah-buahan, ikan, burung, rumput, tumbuh-tumbuhan. Tidak terhitung banyaknya jenis rumput dan tak terhitung pula jenis binatang yang ada di dalam laut yang belum mempunyai label dalam BI.
Kalau kita mengambil sejenis rumput dan kemudian kita tanyakan kepada seseorang, apakah nama rumput ini, maka orang itu pasti akan menjawab rumput; tanpa merincikan jenis rumput tersebut secara tepat. Demikian pula untuk buah-buahan, burung-burungan, pohon-pohonan, dan jenis insekta.Pergilah Anda ke sawah atau ke dalam hutan. Anda akan sulit mengatakan nama jenis tumbuhan atau nama jenis pohon yang ditemukan. Persoalan timbul, misalnya jagung dan beras, mengapa benda tersebut di beri nama dengan jagung dan beras? Mengapa tidak disebut jiging atau biris? Mengapa kata jagung di dalam BI, dalam bahasa Gorontalo menjadi binde, padahal acuanya sama? Demikian juga dengan beras dalam BI, tetapi di dalam bahasa Gorontalo menjadi pale tapulio, padahal acuannya juga sama? Maka dari itu ada beberapa pendapat dari para pakar: - Plato (429-348 SM) Mengemukakan ada hubungan hayati antara nama dan benda. Namun ia pertanyakan, apakah pemberian nama kepada benda didasarkan pada pemberian sewenang-wenang atau atas perjanjian? Apakah penamaan itu berdasarkan padafaktor kesukarelaan atau persetujuan dari semua golongan? - Socrates, guru Plato Mengatakan bahwa nama harus sesuai dengan sifat acuan yang diberi nama. - Aristoteles (384-322 SM), murid Plato Mengatakan bahwa pemberian nama adalah soal perjanjian, konvensi, atau perjanjian belaka diantara sesama anggota suatu masyarakat bahasa. Yang dimaksud dengan perjanjian di sini bukan berarti bahwa dahulu ada sidang masalah nama, untuk sesuatu yang diberi nama. Nama tersebut biasanya berasal dari seseorang yang namanya pakar, ahli, penulis, pengarang, wartawan, pemimpin Negara, tokoh masyarakat yang kemudian di populerkan oleh masyarakat, baik melaluimedia massa, elektronik maupun nonelektronik, atau bisa juga melalui pembicaraan tatap muka. Misalnya dalam bidang fisika dikenal hukum Boyle, Archimedes, karena penemu hukum tersebut adalah Boyle, Archimedes.
Jadi proses penamaan suatu benda, muncul karena adanya suatu benda yang ingin diberi nama. Pemberian nama itu disesuaikan dari daerah yang berbeda-beda. Pada dasarnya walaupun nama suatu benda tersebut berbeda, tetapi acuanya tetap sama yaitu Bahasa Indonesia . Kadang-kadang nama suatu benda masih dapat diusut asal-usulnya, misalnya nama Banyuwangi dan Minangkabau. Kadang-kadang bendanya belum ada, tetapi namanya telah disiapkan lebih dahulu, misalnya bayi yang belum dilahirkan.Setiap disiplin ilmu memberikan nama tertentu untuk sesuatu benda, fakta, kejadian atau proses. Setiap bangsa atau etnik grup menggunakan nama tertentu untuk benda, proses, kegiatan proses tertentu. Namun itu berbeda dengan yang ada pada suku bangsa (etnic groep) atau pada bangsa lain. Misalnya bangsa Indonesia menamai benda ini(rumah) dengan kata rumah, orang Gorontalo bele, orang Inggris menamainya dengan sebutan house, dan orang Belanda menyebutnya huis. Dengan demikian, nama bersifat arbitrer. Masalah perbedaan itu saat ini sulit di jawab, karena nama bersifat mana suka. Persoalan nama perlu di bedakan dengan definisi, juga dengan istilah. Baik definisi maupun istilah berisi pembatasan tentang suatu fakta, peristiwa, benda, proses. Misalnya kita ingin melakukan pembatasan terhadap kata benda seperti “kursi”bukanlah istilah. Kita dapat mengatakan bahwa kursi adalah seluruh realisasi benda yang di sebut kursi.Seandainya ada seseorang yang membawa kepada kita sebuah tangan kursi, maka tangan kursi tersebut tak dapat disebut dengan kursi.Jadi dengan menyebutkan nama kursi kita telah memberikan pembatasan terhadap suatu benda, fakta, peristiwa, atau kejadian, baik pembatasan yang dilihat dari unsur-unsurnya maupun pembatasan yang dilihat dari benda-benda lain yang ada di sekeliling kita (Pateda, 2010 : 62-65).
B. Peniruan Bunyi
Dalam bahasa Indonesia, ada sejumlah kata yang terbentuk sebagai hasil peniruan bunyi. Maksudnya yaitu, nama-nama benda atau hal tersebut di bentuk berdasarkan bunyi dari benda tersebut atau suara yang ditimbulkan oleh benda tersebut. Misalnya, binatang sejenis reptil kecil yang melata di dinding disebut cecek, karena bunyi yang ditimbulkan cecak yaitu “cak..cak...cak..”. Begitu juga dengan tokek, binatang tersebut di beri nama tokek, karena bunyi yang ia timbulkan yaitu “tokek..tokek..”, menurut bahasa dibentuk berdasarkan tiruan bunyi ini disebut kata peniru bunyi atau onomatope. Sejalan dengan itu banyak pula dibentuk kata kerja atau nama perbuatan dari tiruan bunyi itu. Misalnya dapat dikatakan anjing menggonggong, ayam berkotek, ular mendesis, dan lain-lain.Dalam bercerita pun orang acap menirukan bunyi-bunyi benda atau hal yang diceritakan, seperti: - Kudengar bunyi ketukan pintu “tok, tok, tok,” dan sebelum aku bangkit ia telah muncul di pintu. Kata-kata yang dibentuk berdasarkan tiruan bunyi ini sebenarnya juga tidak percis sama, hanya mirip saja, mengapa? Yang pertama, karena benda atau binatang yang mengeluarkan bunyi itu tidak mempunyai alat fisiologis seperti manusia. Yang kedua, karena system fonologi setiap bahasa tidak sama. Itulah sebabnya, mengapa orang sunda menirukan kokok ayam jantan sebagai [kongkorongkonk], orang melayu Jakarta sebagai [kukuruyuk].
C. Penyebutan Bagian
Dalam bidang kesusastraan ada istilah pars prototo yaitu bagian bahasayang menyebutkan bagian dari suatu benda atau hal, padahal yang di maksud adalah keseluruhanya. Misalnya kata kepala dalam kalimat “setiap kepala menerima bantuan seratus ribu rupiah”, bukan dalam arti “kepala” itu saja, melainkan seluruh orangnya sebagai satu kesatuan. Penamaan sesuatu benda atau konsep berdasarkan bagian dari benda itu biasanya berdasarkan ciri yang khas atau yang menonjol dari benda itu dan yang sudah diketahui umum. Misalnya, “pada tahun enam puluhan, kalau ada orang mengatakan; ingin membeli rumah, tetapi tidak ada sudirmanya” maka dengan kata sudirman yang dimaksud adalah (uang) karena pada saat itu uangnya bergambar almarhum jendral sudirman. Kebalikan pars prototo dalah gaya retorika yang disebut totem proparte yaitu menyebut keseluruhan untuk sebagian. Misalnya kalau Indonesia memenangkan medali perak di “Olimpiade”, yang dimaksud hanyalah tiga orang atlet panah putra.
D. Penyebutan Sifat Khas
Hampir sama dengan pars prototo, yang dibicarakan diatas adalah penamaan suatu benda berdasarkan sifat yang khas yang ada pada benda itu. Gejala ini merupakan gejala semantik karena dalam perisiwa itu terjadi transposisi makna dalam pemakaian yakni, perubahan dari kata sifat menjadi kata benda. Disini terjadi sifat itu mendesak kata bendanya karena sifatnya yang amat menonjol itu, sehingga akhirnya, kata sifat itulah yang menjadi nama benda itu sendiri. Umpamanya orang yang amat kikir, lazim disebut si kikir atau si bakhil.
E. Penemu Dan Pembuat
Banyak nama benda dalam kosakata bahasa Indonesia yang dibuat berdasarkan nama penemunya, nama pabrik pembuatnya, atau nama dalam peristiwa sejarah. Nama-nama benda yang demikian disebut dengan istilahappelativa. Nama-nama benda yang berasal dari nama orang, antaralain; mujairyaitu nama sejenis ikan air tawar yang mula-mula ditemukan dan diternakkan oleh seorang petani yang bernama Mujair di Kediri, Jawa Timur. Contoh lain,Voltnama satuan kekuatan aliran listrik yang diturunkan dari nama penciptanya yaitu Volta (1745-1787) seorang sarjana fisika bangsa Italia. F. Tempat Asal Sejumlah nama benda dapat ditelusuri berasal dari nama tempat asal benda tersebut. Misalnya kata magnet berasal dari nama tempat magnesia, kata kenari, yaitu nama sejenis burung, yang berasal dari nama pulau Kenari di Afrika. Banyak Juga nama piagam atau nama prasasti yang disebut berdasarkan nama tempat penemunya seperti piagam kota kapur, prasasti. Kedudukan Bukit, piagam Telaga Batu dan piagam Jakarta. Juga banyak nama perundingan atau perjanjian berdasarkan nama tempat perundingan itu di rundingkan, misalnya perjanjian Gianti, perjanjian Linggarjati. Selain itu, malah juga banyak kata kerja yang dibentuk dari nama tempat misalnya, di Nusakambangkan yang berarti dibawa atau di penjarakan di pulau Nusa Kambangan, dan lain sebagainya.
G. Bahan
Ada sejumlah benda yang namanya diambil dari nama bahan pokok benda itu sendiri. Contoh: kacanama bahan. Lalunama barang-barang lain yang dibuat dari kaca disebut jaga kaca seperti kaca mata, kaca jendela, kaca spion, dan kaca mobil. Begitu juga kataperak dan kaleng yang pada mulanya adalah nama bahan, maka kemudian semua barang yang dibuat dari kedua benda itu disebut dengan nama bahan itu juga, seperti uang perakan (rupiah), kalung perak, kaleng susu, kaleng minyak, dan kue kaleng (Chaer, 2009 :49).

Simpulan
Proses penaman adalah proses dimana kita manusia memberikan nama terhadap suatu benda yang belum mempunyai nama. Cara dan prosesnya pun berbeda-beda, sesuai dengan benda tersebut sehingga munculah nama benda. Dalam proses penamaannya pun tidak sama, ada yang sesuai dengan persetujuan, ada juga yang sesuai dengan sifat benda tesebut, karena nama merupakan kata-kata yang menjadi label setiap makluk, benda, aktivitas dan peristiwa di dunia ini. Di setiap daerah pemberian nama pada suatu benda, bisa berbeda-beda tetapi masih tetap pada satu acuan yaitu Bahasa Indonesia .Misal : nama beras dalam Bahasa Indonesia, tetapi dalam bahasa Gorontalo menjadi pale tapulio.Nama-nama itu muncul akibat dari kehidupan manusia yang kompleks dan beragam, alam sekitar manusia yang berjenis-jenis.Cara pemberian nama beraneka ragam diantaranya berasal dari peniruan bunyi, penyebutan bagian, penyebutan sifat khas, penemu dan pembuat, tempat asal, dan bahan.
Daftar Pustaka
Chaer, Abdul. 2009. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Rineka Cipta. Djajasudarma, T. Fatimah. 2009. Semantik 1. Bandung: PT Refika Aditama. Pateda, Mansoer. 2010. Semantik Leksikal. Jakarta: Rineka Cipta.